Kolom Ustadz Oky

Jadi ketua marhalah (angkatan), jadi beban atau kebanggaan?

By Ustadz Oky Rachmatulloh

Kemarin saya di japri oleh salah seorang wali santri. Beliau bertanya..

Beratkah jadi ketua marhalah itu?”

lalu saya jawab

Berat atau tidak itu tergantung kita. Karena belum ada ceritanya ada santri yg wafat gara-gara jadi ketua marhalah”

Si ibu sepertinya penasaran, lalu melanjutkan pertanyaannya…

“Gimana tuh, koq bisa. Bgmn ceritanya mas. Klo begitu saya akan bilang untuk mengundurkan diri…”

Saya merasa penjelasan saya belum jelas… Lalu saya jawab..

“Lha belum ada sejarahnya kok diminta mundur?? Mendapat tugas artinya dipercaya.Baca lagi tulisan saya pendidikan adalah penugasan”

Lagi-lagi si ibu belum memahami jawaban saya. Maka beliau menanyakan lagi

“kenapa begitu? Apa karena kelelahan?”

Sudah dua kali si ibu menanya hal yg sudah saya jawab. Berarti tulisan saya belum terbaca sempurna. Maka saya tulis jawaban saya dengan hutuf capitl semua, biar terbaca mana jawaban saya yg sudah dua kali ditanyakan itu tanpa rasa marah sedikitpun…

“BELUM ADA SEJARAHNYA IBU……”

Tidak lama kemidian dia menjawab…

“BAIK…Seharusnya mas tidak menyebutkan kata Wafat.

Syukron Infonya 🙏”

Saya tersenyum membacanya. Sedikit banyak mungkin ada emosi di sana. Resiko menulis di media sosial memang begini, rawan di salah fahami. Tapi biarlah, saya malah jadi punya ide untuk menulis dalam artikel ini. Sekaligus permohonan maaf saya kepada si ibu. Siapa tahu ada tulisan saya yg tidak sengaja menyinggung beliau.

Marhalah, apa itu marhalah? Agak berbeda pengertian dengan istilah marhalah yg digunakan dilembaga dakwah modern dalam era sekarang. Marhalah di gontor bermakna angkatan. Biasanya ketika Drama Arena kelas lima, bersatunya kelas 4 dan 3 intensif dalam satu kesatuan inilah yg disebut marhalah. Di kelas lima ini, seingat saya belum ada pemilihan ketua marhalah. Baru nanti di bulan Ramadhan setelah mereka yudisium baru di adakan pemilihan ketua marhalah kelas 6. Cakupan kerjanya jelas, hanya lingkup kelas 6 saja, penentuan warna baju kelas enam, rute study tour kelas 6, sampai kantin kelas 6 dan sumber pendapatan masuk resmi yg di kelola kelas 6 lainnya. Secara cakupan jelas tidak seluas ketua OPPM, namun lebih luas dari ketua panggung gembira.

Beratkah jadi ketua marhalah? Sekali lagi saya sampaikan, berat atau ringan itu tergantung diri masing-masing. Yang jelas melihat cakupannya tadi jelas, tidak lebih berat dari ketua OPPM. Tanggup jawabnya juga cuma di hadapan kelas 6,kalau toh malu, malunya juga di hadapan kelas 6. Bayangkan dengan ketua OPPM yg harus melaporkan tugas dan tanggung jawabnya di hadapan pak Kyai dan seluruh santri pondok modern, dari kelas 1 sampai kelas 6. Tapi meski begitu, jika ada salah dalam penanganan masalah marhalah, malunya itu lho lebih terasa. Soalnya di kelas,di kamar, ditempat olah raga, di kantin sebagai tempat paling damai se darussalam sekalipun, akan terdengarlah “bully”, dari temen-teman se marhalah. Dan lebih “parah” lagi. Teman-teman semarhalah ini yg akan menjadi teman pertama ketika lulus kelak. Jadi kan malunya berterusan sampai ust… He… He…

Untunglah, sekali lagi untunglah, dalam sejarah gontor belum pernah ada ketua marhalah yg gagal sehingga di bully ssmpai kaya gt. Gontor sangat menjaga wibawa ketua marhalah ini. Mereka di didik memimpin di Gontor ini, yg namanya pendidikan wajar jika ada kesalahan. Maka sejauh kesalahannya bisa diperbaiki dan bukan kesalahan individual yg berat semacam mencuri, berkelahi, atau kesalahan norma susila. Maka Insya Allah Gontor bisa memaafkan. Maka, Jadi beban ataukah tantangan menjadi ketua marhalah itu? Jadi sebuah pendidikan itulah jawabnya….

*silahkan di copas dengan menyebut Penulisnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan