Berita AlumniInspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Jadi Orang Besar Susah? Belajar dari Alumni Ini

Pelajaran Hidup Berharga Seorang Pemimpin Ormas Terbesar di Dunia

Semua pasti sudah bisa menebak siapa alumni ini. Ya, Beliau adalah Kiai Haji Hasyim Muzadi (Allahuyarhamhu). Beliau adalah salah satu orang terbaik yang pernah ada di Indonesia. Banyak pencintanya, banyak pengikutnya, banyak didoakan, ditangisi kepergiannya, dirindukan karena ketidakhadirannya. Dan ada nama Gontor dalam sejarah hidupnya.

Entah mana yang lebih beruntung apakah Gontor yang pernah disampiri perjalanan hidupnya atau Beliau yang pernah merasakan “terbentuk” oleh Gontor.

Tapi yang jelas, kita yang menjadi bagian dari keluarga besar Gontor, bangga pernah belajar atau memiliki anak yang belajar di institusi yang sama yang pernah, masih dan akan terus melahirkan orang besar, insya Allah.

Kita yang menjadi bagian dari keluarga besar Gontor, bangga pernah belajar atau memiliki anak yang belajar di institusi yang sama yang pernah, masih dan akan terus melahirkan orang besar, insya Allah.

Orang Hebat Itu Dilahirkan atau Dibentuk?

Pertanyaan ini ibarat pertanyaan mana yang duluan telur atau ayam. Kedua-duanya mempunyai argumen yang masuk akal. Tapi tidak bagi seorang Hasyim Muzadi. Beliau dilahirkan sebagai orang besar dan dibentuk untuk menjadi orang besar.

Perjalanan hidupnya adalah sekolah yang telah digariskan oleh Allah, dan Gontor adalah salah satu “alat Allah” dalam membentuknya.

Berikut beberapa “kisah unik pelajaran hidupnya” yang bisa kita buat sebagai renungan dan pelajaran

Orang Besar tidak harus berasal dari Orang Besar

Ini adalah motivasi yang penting bagi kita saat kita underestimate terhadap diri sendiri karena berasal dari keluarga biasa saja.

Ahmad Hasyim, nama kecil Kiai Hasyim Muzadi, lahir di Bangilan, Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944 dari sebuah keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama Muzadi merupakan pedagang tembakau, dan ibunya bernama Rumyati seorang penjual roti dan kue kering.

Membantu Perekonomian Keluarga

Di usia 12 tahun, bisnis sang ayah yang sempat sukses mulai menurun. Keluarga Hasyim memasuki masa sulit. Sehingga ekonomi keluarga harus ditopang bisnis sang ibu yakni berjualan roti dan kue kering. Hasyim muda ikut membantu perekonomian keluarga.

Saat itu, Hasyim muda harus mengayuh sepeda ontel sejauh 50 kilometer untuk mengambil bahan dan alat pembuat roti. Karena saat itu belum ada kendaraan umum.

Selain itu, Hasyim muda juga memiliki tugas keliling kampung untuk membeli telur ayam sebagai bahan roti dari rumah warga. Ini dijalaninya hingga Beliau masuk ke Gontor.

Tidak Pernah Mengeluh Kepada Keluarga

Mengalami masa perekonomian sulit tak menyurutkan semangat Hasyim Muzadi menimba ilmu. Dengan kesulitan yang dihadapi, justru Hasyim menjadi santri berprestasi dan matang menghadapi hidup.

Sebagaimana diceritakan oleh mantu Kiai Hasyim Muzadi, Arif Zamhari, ke media saat peringatan wafatnya Beliau, dikatakan bahwa Kiai Hasyim Muzadi tidak pernah mengeluhkan “kondisi hidupnya” di Gontor.

Jika uang kiriman telat atau tidak dikirim karena kondisi ekonomi keluarga, alih-alih menyerah, Kiai Hasyim Muda menjual pakaiannya untuk sekedar kebutuhan di pondok.

Karirnya Murni Bertahap

Kiai Hasyim Muzadi adalah satu-satunya yang pernah menempati pemimpin tertinggi NU yang karis kepemimpinan yang dirintisnya benar-benar dari bawah.

Ia aktif di semua level organisasi NU, baik di PMII, Ansor, menjadi Ketua NU tingkat Ranting, Cabang, hingga menjadi anggota DPRD Malang. Karirnya di NU terus meroket hingga menjabat sebagai Ketua Umum PBNU periode 1999-2009.

Sempat ditentang Kakak Sendiri saat Jadi Calon Ketua NU

Jabatan Hasyim sebagai Ketua Umum PBNU sempat mendapat penolakan dari sang kakak, KH Muchit Muzadi. Sang kakak kurang setuju lantaran Hasyim bukan tokoh yang punya garis keturunan kiai, apalagi pimpinan pesantren.

Namun dukungan dari sejumlah ulama dan warga Nahdliyin terus menguat hingga jelang pemilihan. Muktamar ke-30 di Lirboyo, Kediri itu pun menorehkan sejarah baru, anak tukang roti menjadi Ketua Umum PBNU.

Berfikir Inovativ dan Solutif

Berbeda dengan pemimpin NU sebelumnya yang masih berorientasi pada penguatan jam’iyah dan persoalan Nasional. NU zaman Kiai Hasyim membuka diri untuk berkontribusi pada persoalan dunia internasional, seperti penanggulangan terorisme, resolusi konflik, isu lingkungan, dan perdamaian.

Kiai Hasyim Muzadi adalah ketua NU pertama yang berinisiatif membuat cabang kepengurusan NU di luar negeri yaitu PCI, Pengurus Cabang Istimewa NU di sejumlah negara, seperti Australia, Inggris, Jepang, Amerika Serikat, Perancis, Jerman, dan beberapa negara Timur Tengah.

Beliau juga bersama Menteri Luar Negeri saat itu, Hasan Wirayuda, mencetuskan membuat organisasi International Confernce of Islamic Scholars (ICIS) pada Februari 2004. Itu dilakukan untuk menguatkan pemikiran moderat Islam dengan slogan ‘Islam Rahmatan Lil Alamin’.

Menolak Biografinya Ditulis Saat Ia Masih Hidup

Beliau pribadi yang jauh dari rasa ujub dan sombong walau begitu banyak perannya dalam da’wah dan kemanusiaan, mungkin ini yang membuatnya enggan perjalanan hidupnya diterbitkan saat ia masih hidup.

Buku biografi perjalanan hidup KH Hasyim Muzadi ini ditulis oleh wartawan senior Ahmad Millah Hasan sejak 2004 hingga 2014. Seharusnya buku tersebut diluncurkan pada 2014 lalu atau bertepatan dengan ulang tahun ke-70 sang kiai.

Namun Kiai Hasyim menolak buku tersebut diterbitkan saat dia masih hidup. Sang penulis yang masih berusia relatif muda justru meninggal dunia terlebih dulu, pada Sabtu 9 April 2016.

Saat buku tersebut dibedah di acara 40 hari wafatnya KH Hasyim Muzadi, biografi ini bahkan belum dicetak resmi.

Sangat Menaati Guru

Di saat sudah memiliki kehidupan yang mapan kemudian tiba-tiba disuruh meninggalkan itu semua, tentu tidak semua orang bisa dengan berbagai alasan. Tapi tidak dengan Kiai Hasyim Muzadi.

Ketika kehidupannya secara ekonomi meningkat dengan statusnya sebagai anggota DPR tahun 1971, gurunya yaitu Mbah Yai Anwar tiba-tiba menyuruhnya melepaskan semua jabatan dunianya, sebagai dosen, sebagai dewan penasihat bahkan sebagai anggota DPR. Dan Kiai Hasyim hanya dizinkan Mbah Yai Anwar hidup dari penghasilannya sebagai penceramah, tidak boleh dari yang lain. Dan laku ini harus dijalankannya selama 1000 hari atau 3 tahunan.

Karena ketaatan kepada gurunya, Kiai Hasyim menjalani itu semua. Dan inilah yang dianggap sebagai tirakatnya yang 1000 hari.

Dan disaat kebingungan ketika gurunya menunjuk satu lokasi tanah yang harus didirikan pesantren, karena tanah itu bukan tanah miliknya, Beliau tidak membantah atau menolak. Dengan segala upaya dan usaha, lokasi yang ditunjuk gurunya itu akhirnya berdiri pesantren Al Hikam asuhannya.

Supel dan Memiliki Selera Humor

Kemampuan kepemimpinan ideal seseorang biasanya identik dengan kemampuannya bergaul dengan semua lapisan dan kemampuan mencairkan suasana, yang salah satunya dengan humor.

Kiai Hasyim Muzadi memiliki selera humor yang cerdas karena Beliau memiliki kemampuan ilmu mantiq/logika yang tinggi

Salah satu humornya terekam dalam buku Keping Uang Koin: Cerita Kiai Hasyim Muzadi adalah tentang tulisan jelek seorang kiai kampung.  (baca di sini)

Menurut Fajrul Hakam Chozin, keluarga Beliau yang berdomisili di Surabaya, KH Hasyim Muzadi di mata keluarga merupakan sosok yang humoris selain menguasai ilmu logika. Oleh karena itu, kata dia, KH Hasyim Muzadi bisa diterima berbagai golongan masyarakat.

Penutup

Masih terlalu banyak kisah Beliau yang bisa dijadikan pelajaran, khususnya bagi santri-santri dan alumni dan keluarga besara Gontor, yang tidak akan mampu disarikan hanya dari satu judul sebuah blog. Tapi setidaknya ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi.

Jadi jika selama ini ada perasaan ragu apakah anak kita bisa menjadi ulama sedang tidak ada darah kiai ditubuhnya, atau minder untuk menjadi orang hebat karena bukan dari keluarga ninggrat atau keluarga berada, atau ada hambatan karena keluarga kita yang lain tidak setuju anak kita “dipesantrenkan”, maka Kiai Hasyim Muzadi salah satu jawabannya.

Yang terpenting itu adalah, apa yang biasa disebut orang, life skill yang membentuk karakter unggul, pekerja keras dan cerdas, tidak gampang mengeluh apalagi menyerah, surviving, kepemimpinan, organisasi, mental pejuang dan lain-lain, yaitu itu semua adalah justru menjadi salah satu jargon Gontor, insya Allah.

Semoga Allah menempatkannya di tempat yang mulia di sisi Allah, bersama para Nabi, para Syuhada, para Sholihin yang telah mendahului kita, dan semoga Allah menjaga ulama, Kiai dan guru-guru kita semua. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan