Inspirasi dan MotivasiKisah Alumni

11 Tahun di Gontor: Sebuah Titik Balik

Oleh: Muhammad Abdul Aziz 2006

Dua ribu enam. Petang itu. Di bumi Kaligung Rogo Jampi Banyuwangi. Di bawah atap aula Pondok Modern Gontor 5 Darul Muttaqin. Yang ketika itu masih amat sederhana. Berdaunkan lempengan tanah liat yang dibakar. Bertulangkan kayu-kayu yang dipotong kubus memanjang. Sang Mudir, KH Imam Kamaluddin, M Hum menyampaikan satu nasihat yang hingga sekarang masih teringat. Kepada kami siswa akhir, dikutiplah satu perkataan dari Imam Fakhrurrazi ketika menafsirkan surat al-Nasr.

إذا تم الأمر دنا النقص توقع زوالا

Jika sesuatu sudah menapaki puncaknya, maka sesungguhnya ia semakin dekat dengan kekurangannya. Dan tidak lama setelahnya, tunggulah kehancurannya.

*

“Wong dikongkon metu ngono wae kok isin,” nasihat almarhum Bapak saya setengah membentak.

Ketika itu, di rumah saya ada kenduri. Lalu saya disuruh untuk mengantarkan jajanan keluar. Saya enggan. Yang terlintas dalam fikiran, ada perasaan malu yang menutupi muka. Perasaan itu entah bagaimana caranya telah membelenggu mental saya bahkan untuk berhadapan dengan sekumpulan orang seperti jamaah kenduri itu. Ada semacam dugaan keras bahwa jika saya keluar, maka pandangan semua orang akan secara otomatis tertuju pada saya. Padahal, tidak lantas demikian bukan?

Perasaan semacam ini entah tumbuh dari mana. Saya merasa itu bercokol secara built-in dalam diri saya. Artinya, sudah dari sananya, Gusti Allah Swt sudah dari sejak lahir menciptakan saya sebagai seorang pemalu. Hingga, untuk mengeluarkan jajan keluar saja tidak berani.

“Malu itu ada tempatnya,” tambah Bapak. “Tidak semua malu itu baik. Melakukan kemaksiatan, pantas kita malu karenanya. Tapi jika itu adalah kebaikan, maka kita tidak perlu malu,” simpul saya.

Tentu perasaan itu tidak hanya berdiri sendiri ketika fragmen kenduri itu. Ia hampir merepresentasikan sebagian kepribadianku semasa kanak-kanak. Bahkan ia masih berlanjut hingga ketika masih di SMP. Di Sugio. Di sebuah kecamatan yang berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Lamongan itu. Pada periode ini, rasa malu itu membuat hidup saya semata-mata berkutat pada pelajaran. Bahwa pendidikan dipersempit cakupannya hanya pada kegiatan belajar di kelas. Di luar kelas, hanya sekedar pelengkap. Sebagai bukti, ketika itu, saya bahkan hampir-hampir tidak mempunyai satu pun kegiatan ekstra. Kalau pun mau disebutkan, maka “Pramuka” lah jawabannya. Itu pun lebih lantaran ia merupakan kewajiban.

Tidak hanya di tingkatan Menengah Pertama, perasaan malu tersebut bahkan menemukan titik kulminasinya ketika saya di SMA. Sebuah sekolah favorit di Jalan Veteran itu. Ketika saya berhadapan dengan sebaya yang berangkat dari latar belakang yang lebih divergen, dengan radius lintas kabupaten. Tentu dengan gaya dan pola hidup yang sebagiannya belum pernah saya jumpai. Apa yang terjadi selanjutnya adalah saya hampir-hampir tidak merasakan hidup sebagai seorang pelajar. Berseragam putih abu-abu hanya formalitas. Datang ke kelas hanyalah rutinitas. Meskipun bahkan berjalan kaki beratus meter dari Gang Mawar Tlogoanyar hingga ujung Veteran. Kian matahari beranjak dari ufuk terbitnya, kian mata ini sayup. Padahal hari itu adalah pelajaran Matematika. Amat tersiksa. Saya sulit untuk melupakan momen-momen betapa seringnya kawan sebangku saya Arif Siswanto, yang kabarnya kini menjadi personil TNI AL, menggoyang-nggoyangkan bahu saya. Seakan-akan ia ingin mengatakan; “Ini kelas, Bro. Jangan ngantuk melulu.” Walhasil, jangankan ekstra, bahkan dalam kegiatan kelas pun saya kehilangan gairah.

Pernah terbersit waktu itu untuk pindak ke Denanyar Jombang. Tapi Emak saya berhasil membujuk. “Yoh dibetah-betahno disik,” nasihatnya. Pada periode ini, analisis saya hari ini, perasaan malu bercampur baur dengan pencarian identitas diri. Ketika siang, saya belajar ilmu-ilmu umum. Dan ketika malam, kami ditempa dalam ilmu keagamaan oleh KH Slamet Muhaimin Abdurrahman. Beserta para abdi beliau tentu saja. Berbekal wejangan beliau, baik yang tersirat maupun tersurat dalam deretan aksara kitab-kitab kuning itu, saya selalu mempertanyakan esensi dan urgensi belajar ilmu-ilmu alam itu. Meski dalam hati. Saya juga – setidaknya dalam perspektif seorang remaja – belum menemukan sosok figur di sekolah itu yang merepresentasikan intelektualitas dan religiusitas yang paripurna. Ide tentang integrasi dua lokus penyokong peradaban itu sememangnya ada. Dalam buku, surat kabar, dan acara televisi yang saya baca. Namun dalam tataran realitas, ia sementara masih nihil. Dan selama pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab, maka selama itu pula saya belum punya pijakan yang kokoh. Dan selama tidak ada landasan untuk berdiri tegap, maka keraguanlah yang menyeruak menjadi pemenang.

Meski diselimuti oleh serba keraguan dan inferioritas, syukur alhamdulillah, tiga tahun saya menyelesaikan pendidikan menengah atas itu. Silang sengkarut pertimbangan itu pada akhirnya membimbing saya pada satu suara batin; dunia pondok. Saya merasakan kedamaian dalam berinteraksi, kehalusan dalam budi bahasa, kesederhanaan dalam pola hidup dan kepasrahan dalam usaha. Tentu dunia pondok juga tidak sepi dari kekurangan, tapi entah bagaimana perasaan itulah yang ketika itu mendominasi jiwa saya. Meski demikian, fakta ini tidak lantas meyakinkan saya untuk mengikuti suara batin tersebut. Saya masih ingin memperjuangkan tiga tahun itu. Saya masih bermimpi mengikuti para salaf salih yang berhasil memadukan ‘ulum diniyyah dan ulum ‘ammah. Yang menjadi seorang faqih, sekaligus seorang tabib. Seperti Ibn Rusyd. Yang menjadi sastrawan, juga seorang ahli Biologi. Seperti al-Jahiz. Yang menjadi seorang filosof, dan juga merupakan seorang dokter. Seperti Ibnu Sina. Betapa pun ide integrasi ini belum juga menemukan suluh penerang.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti SMPTN. Kepanjangannya; Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya masih ingat pilihan saya; Biologi, Universitas Brawijaya. Tidak tanggung-tanggung: saya memutuskan untuk pergi ke Surabaya. Kursus persiapan selama sebulan. Bersama Badrul Imam, Mbak Hetin Ni’mah, Zaenal Arifin dan Siti Muzayyanah. Ada juga Ifadah Shalihah dan kawan-kawannya. Saya mengikuti kursus di Phi Beta Group. Semakin saya mendekati Surabaya, menyusuri jalan-jalannya, dari Kertajaya hingga Dukuh Kupang, ikut memenuhi sesak angkutan kotanya, memerhatikan gelak dan riang muda-mudinya, menghirup padat udara dan suasana batin penduduknya, semakin saya meyakini bahwa ini semua jauh dari kata batin saya. Mungkin ia cocok untuk orang lain, tapi rasa-rasanya bukan untuk saya. Tentu saya belajar. Tentu saya masuk kelas. Tentu saya ikut ujian. Tapi segalanya sesungguhnya hampa. Formalitas belaka. Toh akhirnya, saya pun harus memilih. “Kalau saya masuk Brawijaya, berarti ia memang takdir saya. Dan kalau saya tidak masuk, maka takdir saya berarti ke pondok.”

Dan pagi itu, di depan aula Rijal, di Pondok Pesantren Roudlotul Qur’an Tlogoanyar itu, saya segera meraih Koran Jawa Pos. Hari itu adalah hari pengumuman hasil keputusan. Mataku hampir tak berkedip. Kusisir baris demi baris. Aksara demi aksara. Kalimat demi kalimat. Dan Alhamdulillah; “Muhammad Abdul Aziz” tidak ada. Barang kali waktu itu saya sedih juga. Tapi yang teringat, justru saya berbinar. Karena, “fi al-isabah ifadah”. Dalam satu musibah, pasti ada faedah yang boleh kita ambil. Sekurang-kurangnya, agar pada akhirnya memilih ke pondok, saya telah menjalani satu prosedur falsifikasi. Yaitu, pilihan ke pondok itu pada dasarnya salah. Ia baru menjadi benar jika pilihan lain terbukti salah. Artinya, saya mungkin memang ditakdirkan masuk ke pondok.

“Kalau mau mondok, mondok yang bonafid sekalian,” nasihat Mbak Kif, sang diplomat keluarga. Ketika itu, yang terlintas ada dua pilihan; Gontor atau Langitan. Pondok yang terakhir ini memang terkenal sebagai soko guru pondok tradisional di Indonesia. Ia terletak tepat di bibir Bengawan Solo yang membelah kota Babat Lamongan itu. Adapun tentang Gontor, saya tidak mengenalnya melainkan dari surat kabar. Ketika masih belajar di Tlogoanyar, selepas diniyyah malam, biasanya kami melepas penat di warung Cak Qosim yang legendaris itu. Selain melihat acara TV, biasanya waktu saya habiskan untuk melihat rubrik Olahraga Jawa Pos. Dan yang hampir tidak pernah ketinggalan adalah satu kolom khas yang ditulis oleh Maksum. Ulasannya banyak berkisar tentang politik, sosial dan kebudayaan. Demi membacanya, kadang-kadang saya sampai “njinggleng” (terlalu fokus membaca sehingga lupa orang di sekitarnya). Baru akhir-akhir inilah saya menyadari bahwa kebiasaan seperti ini semestinya menjadi justifikasi yang cukup bahwa jiwa saya adalah ilmu-ilmu sosial, bukan eksakta – satu hal yang amat membingungkan waktu SMA.

Dan, di sela-sela membaca inilah, saya menemukan satu reportase yang memberitakan ceramah KH Hasyim Muzadi di Pondok Modern Gontor. Turut hadir gambar beliau berpose di sebuah ruangan besar. Dengan latar belakang kaligrafi yang meliuk-liuk indah, dilindungi oleh ornamen yang demikian memikat. Lantas timbul dalam benak saya, “santri yang terkenal dengan agamanya kok ya bisa membuat ornamen gini ya? Ini pasti pondok yang bagus.” Betapa pun demikian, memilih selalu saja menjadi satu hal yang amat, amat dan amat sulit. Waktu itu saya sempat juga shalat Istikharah. Tidak hanya masa transisi selepas SMA, bahkan sejak selepas SMP pun, hal yang sama juga saya lakukan.

Saya tidak menunggu lama. Saya perlu survey. Bersama kawan dekat saya, Dwi Sumardiono, asal Bendu, saya berangkat ke Ponorogo. Pertama-tama, saya mengantarnya ke sebuah Balai Latihan Kerja. Di belakang gedung Graha Pena Surabaya. Dia lulusan STM. Kabarnya, dia ingin bekerja di luar negeri. Lalu, selepas Dzuhur, dari Terminal Bungurasih, kami meluncur ke Kota Reog. Lima jam perjalanan. Sesampai di Terminal Seloaji, kami ngojek ke Gontor. Fikiran saya masih gelap seperti apa Gontor. Segelap laluan jalan menuju Gontor.

Tepat selepas Isya’, kami berhenti di depan gerbang utara Pondok. Terlihat perumahan guru Gambia. Hijau muda memenuhi dinding-dinding itu. Lalu ditegaskan di setiap tepi bawahnya oleh garis hijau tua. Daun jendelanya yang kuning polos. Lalu ada satu dua kursi bercengkerama dengan seonggok meja. Yang timbul dalam fikiran saya tidak lain hanyalah kesederhanaan. Kami susuri perumahan itu. Langkah demi langkah. Sampailah kami di ujung utara-barat lapangan bola Gontor. Alangkah kagetnya kami ketika membujur di depan kami dua bangunan besar. Beratapkan genteng dari tanah liat. Hijau muda kembali mendominasi. Ventilasi jendelanya tersusun dari kayu yang dipotong jajaran genjang. Sangat tradisional. Lalu di atas atapnya berkerlipan lampu hias, merayap membentuk pola tertentu. Saya tiba-tiba merasakan ada angin yang menyergap tubuh saya. Ada air yang membasuh hati saya. Bulu roma saya berdiri. Seakan saya masuk sebuah tatanan dunia baru. Saya teringat akan satu imajinasi atau mimpi yang pernah bercokol dalam fikiran saya. Deja vu.

Kami lanjutkan langkah. Kami sengaja menuju ke sebuah rumah. Yang juga hijau muda. Untuk bertanya-tanya. Keluar dari dalam seorang kakek berperawakan tegap. Berkacamata. Kami disambut sekilas. Beliau mengarahkan bahwa semua penerimaan santri baru diuruskan di Gontor 2. Beberapa tahun setelahnya, baru kami sadar bahwa beliau adalah KH Imam Badri, salah satu Pimpinan Pondok Gontor. Lalu kami ke Bagian Penerimaan Tamu al-Azhar. Disambut dengan ramahnya oleh seorang santri berkulit kuning langsat. Dari langgam bicaranya, tampak bahwa ia dari Jakarta atau Jawa Barat. “Taufiqurrahman” terpahat di sebuah papan kecil yang tersemat di dadanya. Ia cukup cekatan. Menjelaskan semua hal dan informasi yang kami perlukan. Ia kemungkinan besar waktu itu adalah pelajar kelas 6. Satu atau dua tahun setelahnya, ternyata ia kemudian mengajar saya.

Malam itu saya gunakan untuk keliling kampus Gontor. Temaram cahaya yang dipendarkan oleh lampu di tengah rerumputan itu menjadikan suasana taman Saudi sungguh anggun. Dari potongannya, jelas sekali rumput-rumput itu terawat. Malam itu saya tidak menjumpai santri berkeliaran. Kemungkinan besar mereka sedang Muhadlarah. Hanya ada sekumpulan orang yang sedang membuat panggung untuk acara Kepramukaan. Pagi selepas subuh, sekumpulan santri bermain bola. Semua pakai sepatu. Semua memasukkan celananya dengan rapi. Yang lebih membuatku termanggut-manggut heran; ada juga yang memasukkan kemejanya ke dalam sarung yang dililiti oleh seikat tali pinggang. Pemandangan ini semua sama sekali baru dalam benak saya. “Ini bukan pondok biasa,” kesan saya.

Dan akhirnya, di Pondok inilah saya menimba ilmu selama 11 tahun lamanya. Meski ia terletak jauh dari keramaian, kosmopolitanisme Gontor mampu mengenalkan saya dengan orang dari seluruh provinsi di Indonesia. Bahkan yang dari mancanegara pula. Benar bahwa Gontor melabeli dirinya dengan Modern. Tapi terlihat ia sama sekali tidak tercerabut dari semangat tradisionalismenya. Pengajarannya bukan sekedar ilqa al-ma’lumat, tapi bahkan semacam “brain washing”. Pendidikan karakternya bukan sekedar gincu. Karena Motto dan Panca Jiwa Pondok benar-benar diusahakan diresapi oleh setiap elemen. Dengan semboyan “Jadilah Ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama”, ia berusaha untuk menyeimbangkan antara religiusitas dan intelektualitas. Dan yang tidak kalah penting, terutama bagi diri saya pribadi, saya mulai “kehilangan” rasa malu. Tentu rasa malu tetaplah penting. Sebab, “al-haya’ min al-iman.” Namun setidaknya saya mulai mampu mengendalikannya. Mampu menempatkannya – sebagaimana pesan Bapak saya. Saya mulai yakin untuk mampu berbicara di depan umum. Untuk bergaul dengan siapa saja. Termasuk untuk bersinggungan dengan pelbagai macam pemikiran.

*

Empat tahun setelah pertemuan pertama kali dengan Gontor, petang itu saya sudah menjadi calon alumni Gontor. Bahkan berlanjut 7 tahun mengajar setelahnya. Periode tersebut amat berarti bagi kehidupan saya hingga sekarang. Sebuah titik balik yang menentukan. Ia banyak merubah cara berfikir, cara mempertimbangkan, dan cara bersikap. Tentu itu adalah sebuah pencapaian yang layak dibanggakan. Namun, kembali kepada Imam Fakhrurrazi, saya lebih ingin memaknainya sebagai bukit. Bukan puncak tertinggi. Sebab, masih ada bukit-bukit yang lain. Masih ada bahkan gunung-gunung yang jauh lebih tinggi untuk didaki.

Untuk merayakan perjalanan 11 tahun ini, lirik In-Team di bawah ini terasa amat mengena.

Jangan difikir derita akan berpanjangan
Kelak akan membawa putus asa pada tuhan
Ingatlah biasanya kabus tak berpanjangan
Setelah kabus berlalu pasti cerah kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan