Inspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Masya Allah! Potret Pahlawan Nyata Alumni Gontor

Dia bukan pahlawan yang ikut berperang melawan penjajah, bukan tentara yang memanggul senjata melawan musuh. Senjatanya hanya dirinya, motivasinya, pengorbanannya dan keyakinannya yang kuat dalam melawan ketidakberdayaan yang dihadapi masyarakat di daerah sulit atau terpencil. Namun sebagaimana seorang pahlawan, dia juga membawa dan memberi harapan bagi banyak orang akan terbebasnya banyak beban dan kesulitan.

Itu yang mendasari sebuah stasiun TV swasta, pada Bulan November 2014, memberinya sebuah penghargaan yang ditandai dalam sebuah pigura ukuran A4 yang bertuliskan, Ahmad Nuril Muhyidin, Pahlawan untuk Indonesia.

Mudah-mudahan Ustadz Ahmad Nuril Muhyidin berkenan walsantornews.com mengangkat kembali figurnya, karena ini sebenar-benar inspirasi bagi banyak alumni lain dan juga wali santri Gontor.

Saat media dan bahkan dunia mengagumi dan mengapresiasi kiprahnya dalam memberdayakan masyarakat lemah, ustadz Achmad Nuril Mahyudin, (saat itu 47 tahun tahun 2014), bukanlah orang kaya. Saat itu harta berharganya adalah seonggok sepeda motor tua dan masih menempati rumah kontrakan.

Namun, di tangannya puluhan keluarga miskin dan anak telantar dari pelosok desa berhasil dientaskan. Modalnya hanya kepintaran berbisnis konfeksi dan bakat seni yang hasilnya senantiasa diamalkan.

Hasil Usaha untuk Beramal

Untuk menunjang misi amal sosialnya, Ustadz Ahmad bersama temannya, Zaki Zulkarnain mendirikan usaha konfeksi. Produk utamanya adalah tas yang mempunya Brand Ampibhi dan Reptile.

Ssalah satu produk Tas Reptile

Meski hanya terbilang usaha kecil skala home industri, tapi tas dan ransel produksi workshopnya Ustadz Ahmad sudah menembus mancanegara.

Ustadz Ahmad beberapa kali mendapatkan pesanan dari mahasiswa di University of Melbourne dan National Resource Management. Dia juga sempat menunjukkan tas yang dipesan The British International School Jakarta. Dan tercatat USAID (United State Agency for International Development) juga menjadi pelanggan produksi tasnya. Masya Allah.

Omset usaha konfeksinya bisa mencapai 150 juta perbulan dengan keuntungan 20-30 juta (saat itu di tahun 2014). Yang uang keuntungan inilah dipakainya untuk memuaskan bathinnya dalam membantu saudara-saudaranya di daerah terpencil.

Rumah Masih Ngontrak dan Harta Paling “hebatnya” adalah Sebuah Motor Bebek Butut

Ustadz Ahmad Nuril mungkin adalah salah satu tipe manusia yang sangat jarang yang ada di Indonesia. Di saat masih “membujang” biasanya anak muda mengumpulkan harta untuk rencana masa depannya, tapi bagi Ustadz Ahmad hartanya dihabiskan untuk membangun sarana thaharah saudara-saudaranya di daerah terpencil.

Bahkan saat itu rumahnya masih mengontrak sebuah rumah tipe 70 di Perumahan Pamulang Permai. Satu-satunya barang berharga yang dibeli untuk kepentingan pribadinya hanya sebuah motor bebek butut.

Ustadz Ahmad Nuril aktif blusukan ke sejumlah pelosok desa untuk melakukan kegiatan sosial tanpa embel-embel lembaga atau partai mana pun. Prinsip filosofi Jawa sepi ing pamrih rame ing gawe, tak berharap imbalan apa-apa, giat bekerja sudah menjadi darah dagingnya.

Sebelum sahabatnya, Zaki meninggal, biasanya Nuril menyerahkan pengelolaan bisnis konfeksinya ke sahabatnya tersebut. Nuril biasanya pergi ke desa terpencil yang sudah dipantau dalam waktu dua minggu sampai satu bulan. Di sana dia memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa sekitar.

Memberdayakan Anak Muda dari Keluarga Kurang Mampu

Dalam membangun usaha konfeksi ini, yang menarik adalah, seluruh karyawan yang mengerjakan diambil dari anak-anak jalanan, anak-anak putus sekolah dan anak-anak yatim.

Ustadz Ahmad Nuril di workshop tasnya bersama pemuda-pemuda yang diberdayakan

Saya ingin tenaga kerjanya berasal dari kalangan grass-roots yang tidak memiliki pengalaman kerja. Tapi, setelah itu saya didik dan latih, akhirnya mereka mampu berkarya”, ucapnya datar

Dengan didikan dan motivasinya, ia bahkan menggugah para pemuda itu untuk turut andil juga dalam kepedulian sosial.

Di Workshopnya disediakan kencleng bagi para pekerja yang ingin ikut berandil. Mulai dari lembaran 5ribu hingga seratus ribuan ditemukan salah satu tim media ketika mereke ingin mengetahui berapa banyak para pekerja itu turut menyumbang.

“Saya tak anggap mereka sebagai pekerja, tapi keluarga yang ingin saya didik untuk bisa mandiri,” tegasnya kepada sebuah media

Sejak 16 tahun usahanya berdiri saat itu, puluhan pemuda berhasil dia cetak sebagai wirausahawan. Kebanyakan anak-anak binaan dientaskan ketika akan menikah. Biasanya Nuril akan memberikan modal dan peralatan kerja konfeksi sampai membukakan pasar untuk anak didiknya.

Kalau perusahaan besar dan raksasa melakukan program CSR (Corporate Social Responsibility) adalah hal lumrah. Tapi perusahaan UKM yang melakukan program CSR seperti perusahaan milik Ustadz Ahmad Nuril giat melakukan langkah-langkah membantu kemashalatan orang banyak, barangkali belum banyak.

Ustadz Nuril menjelaskan, sebagian keuntungan dari Amphibi disumbangkan untuk orang-orang miskin dan orang-orang jompo (tua), sedangkan merek Reptile dikhususkan untuk anak-anak yatim piatu dan anak-anak putus sekolah. Sebuah sinergi bisnis sebagai pelukis dan CEO Amphibi dan Reptile dengan kisi-kisi kemanusian merupakan langkah bijaksana yang perlu ditiru.

Van Goghnya Kaligrafer

Ustadz Ahmad Nuril adalah seorang khotthot jebolan Gontor. Dia lulus KMI Gontor pada tahun 1989. Keterampilannya melukis kaligrafi sudah diakui para pencinta seni akan ketinggian nilai seninya. Tak kurang dari banyak pejabat telah menjadi langganannya.

Nah, dari sinilah Nuril mendapatkan modal untuk membangun bisnis konveksinya.

Blusukan-nya ke daerah terpencil diakui Ustadz Ahmad Nuril sebagai bagian dari laku spiritualnya yang membentuk gaya lukisan kaligrafinya.

”Sudah lama sebenarnya saya menekuni karya lukis. Tapi, setelah melalui perjalanan spiritual, saya menemukan aliran lukis saya sendiri,” terangnya.

Lukisan Nuril memang diakui sejumlah pemerhati seni memiliki kelebihan tersendiri. Beberapa testimoni dari pejabat negara menjadi bukti karya masterpiece lukisannya. Salah satunya mantan Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad.

Kaligrafi dari “Van Gogh Kaligrafer Indoensia, Ustadz Ahmad Nuril Muhyidin

Dia menilai karya Nuril bagian dari seni intelektual yang tinggi dan layak mendapatkan tempat di peta seni lukis nasional. Pelukis yang karyanya “kurang dikenal” di Indonesia, tapi kiprahnya dan master piece-nya dikenal di luar negeri. Lukisan kaligrafi-nya dibanderol mulai 40 jutaan sedangkan replika dijual di kisaran 5 juta- 17 juta. Sedangkan lukisan master piece-nya ditawarkan mulai US$400.000 (4 miliyar lebih) per lembar. Salah satu lukisannya pernah dibeli presiden Megawati dengan harga US$ 185.000. Masya Allah…

Ustadz Ahmad Nuril menyebut karya lukisannya beraliran Wet Positive Abstract of Nurielist memang digemari orang mancanegara. Pameran lukisan di San Diego, Yokohama, California hingga Amsterdam dibanjiri dan diminati banyak orang. Kalau Anda mampir di studionya di kawasan Pamulang, jangan kaget kalo koleksi lukisannya harganya sudah mencapai milyaran.

Goresan kuas di kanvas mengingatkan kita akan gaya seorang pelukis dunia legendaris dari Belanda, Van Gogh.

Sepintas karya Nuril terlihat kental akan nuansa abstrak, namun juga impresionis. Ustadz Ahmad Nuril mengakui bahwa goresannya menyerupai sentuhan master pelukis asal Belanda Vincent van Gogh.

Tapi, saya merasa memiliki kelebihan dalam sentuhan cat yang bisa menimbulkan bentuk tiga dimensi,” ujarnya.

Pernah Menjadi Dosen Tamu di UI

Ustadz kelahiran Lamongan, 3 Oktober 1967 ini pernah diundang menjadi dosen tamu di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Fakultas yang banyak melahirkan ekonom-ekonom besar dan berpengaruh di Indonesia ini mendapat suntikan motivasi dan pengalaman dari seorang CEO Ampibhi dan Reptile ini.

Bukan teori bisnisnya yang memukau para peserta tetapi kiprahnya menjadikan bisnis sebagai ladang amal dan bakti sosial yang membuat kagum seluruh pendengar.

Dengan penampilan sederhana dan gaya bicara yang “biasa”, Ustadz Ahmad Nuril memberikan contoh mulia, bahwa tidak perlu menjadi perusahaan besar baru bisa mengeluarkan CSR.

Jika Ustadz Ahmad Fuadi menjadikan mahfuzhot man jadda wajada sebagai pelecutnya, maka Ustadz Ahmad Nuril tergugah dengan hadits khairunnaasi ‘anfauhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.

Menikah di Usia 48 Tahun

Ustadz Ahmad Nuril sangat peduli dengan masyarakat kecil dan di pelosok terpencil. Bahkan kebahagiaan sejati baginya adalah di saat orang lain bahagia. Saat ditanya media apa yang dirasakan saat menghabiskan waktu dalam amal sosial itu, Ustadz Ahmad Nuril sambil berkaca-kaca, ”Saya menemukan kebahagiaan yang tidak bisa saya ungkapkan dan tak bisa diganti dengan materi apa pun,”

Kepeduliaan putra pasangan H. Ahmad Malikul Afkar dan Hj. Siti Romzah Maskoeri yang besar ini hampir membuatnya lupa akan kodratnya untuk menikah. Waktunya yang habis untuk komunitas sosial, ikut pameran ke berbagai kota.

Ustadzah Noura, istri Ustadz Ahmad Nuril, alumni GP tahun 2000

Disaat usianya beranjak 48 Tahun, Allah mempertemukannya dengan Ustadzah Azhimatul Noor Bashari Diyanti, yang kebetulan juga merupakan alumni Gontor Putri tahun 2000.

Ustadzah Noura adalah juga seorang aktifis sosial ynng saat menikah usianya sudah menginjak 33 tahun. Saat pernikahannya, orangtua Ustadzah Noura sampai harus mengantar putrinya ke hutan untuk menemui Ustadz Ahmad Nuril di Ngawi Timur.

Jika Boleh Memilih Ustadz Nuril ingin Bergerak dalam Senyap

Apa yang dilakukan Ustadz Ahmad Nuril bukanlah sebuah aksi yang ingin mendapat perhatian banyak orang. Jika boleh memilih, dia ingin bergerak dalam senyap yang tidak ada orang yang memperhatikannya.

Beberapa kali ia menghindari para wartawan yang ingin menggali inspirasi dari Beliau, tapi salah seorang wartawan malah mengecapnya sebagai penghianat bangsa, karya wartawan menganggap bahwa ini adalah inspirasi besar bagi bangsa ini dan Ustadz Ahmad Nurik tidak mau publikasi. Akhirnya Beliau menyerah dari para kuli tinta ini setalah kucing-kucingan hampir tanpa lelah antara dirinya dan wartawan.

Mungkin Beliau teringat janjinya pada Ibunya dahulu. Ustadz Ahmad Nuril mengaku sejak remaja sudah menyampaikan ke ibundanya ingin menjadi seseorang yang bisa memberi contoh keteladanan. Nuril ingin mewujudkan keinginan itu dengan berupaya mengorbankan apa yang dimilikinya.

Perjalanan “Blusukannya” dibukukan

Ustadz Achmad Nuril Mahyudin adalah seorang seniman lukis & kaligrafi yang meninggalkan studio lukisnya di pusat kota untuk mulai menggoreskan sentuhan-sentuhan kemanusiaan di kanvas nyata medan perjuangan sosial di pelosok-pelosok.

Pengalaman hidupnya ini menjadi inspirasi bagi banyak orang sehingga memancing banyak pertanyaan tentang bagaimana lika-liku perjalanan rohani sosialnya di banyak pelosok.

Untuk menjawab banyak pertanyaan ini maka dibuatkan sebuah buku yang berjudul Humanity Journey, yang kebetulan dieditori oleh istrinya sendiri, Ustadzah Azhimatul Noor Bashari Diyanti.

“Buku ini merupakan kumpulan kisah-kisah yang menyentuh dan menggugah dari kisah-kisah nyata perjalanan kemanusiaan penulisnya di pelosok-pelosok hingga detik ini selama sekitar lebih dari seperempat abad,” jelas Ustadzah Azhimatul Noor.

Penutup

Sungguh perjalanan Ustadz Ahmad Nuril Muhyidin ini memberikan banyak inspirasi bagi banyak orang dan juga menimbulkan harapan bahwa masih ada manusia-manusia pahlawan sejati di Indonesia ditengah hiruk pikuk permasalahan yang menerpa negara tercinta ini.

Secara khusus, kisah ini bisa menjadi bahan cerita para wali santri Gontor kepada putra-putrinya sebagai motivasi untuk anak-anaknya agar terus berbuat bagi banyak orang dengan tanpa pamrih.

Ini mungkin salah satu bukti pengabulan doa para Kiai di Gontor kepada Allah agar anak-anaknya menjadi sesungguhnya mundzirul qoum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan