Parenting dan Keluarga

Orangtua Hati-hati! Gadget Bisa Mengganggu Produktivitas dan Mental Anak


Di pondok gadget/gawai adalah termasuk barang “haram” bagi santri. Larangan ini menjadi aturan yang menjadi ciri khas Pondok Pesantren yang sudah diketahui umum. Praktis, selama anak studi di pesantren, sangat sedikit waktu mereka berinteraksi dengan gawai itu kecuali saat liburan. Sedangkan di “dunia” luar pesantren, barang itu sudah menjadi umum bahkan suatu kebutuhan. Bagi Walsan yang memiliki putra yang belum berkesempatan memasuki dunia pesantren, maka peringatan dari psikiater itu adalah sangat penting untuk diperhatikan.

ooo000ooo

Psikiater anak dan remaja Universitas Hasanuddin Rinvil Renaldi mengatakan bermain gawai dalam waktu lama memberikan efek negatif bagi balita termasuk menyebabkan anak menjadi tidak produktif. Rinvil mengatakan anak-anak yang terbiasa bermain gawai dengan jangka waktu yang panjang membuat mereka malas belajar dan beraktivitas.

“Mereka akan sibuk dengan dunianya sendiri atau ketergantungan sehingga tidak tertarik lagi melakukan aktivitas lain seperti menggambar, melukis, menulis, dan kegiatan lain,” ujarnya di Makassar, Senin (8/4).

Selain membuat anak tidak produktif, bermain gawai juga akan mempengaruhi perilaku bahkan mental anak. Anak akan lebih mudah tersinggung jika orang tua mengambil gawai yang sedang dimainkan atau tidak memberikan gawainya kembali.

Dampak lainnya menurut Rinvil, anak juga akan lebih malas berpikir. Ini karena gawai lebih mudah dan lebih simpel dimainkan jika dibandingkan menggambar dan sebagainya. “Jadi anak akan melakukan yang mudah saja. Tidak mau aktivitas yang berat, seperti gambar atau menulis. Ini tentu menjadi hal yang harus diperhatikan para orang tua,” ujarnya.

Selain perubahan perilaku, bahaya bermain gawai dalam waktu lama juga akan memengaruhi kesehatan. Misalnya menatap layar ponsel dengan jangka waktu yang lama akan meningkatkan risiko gangguan mata seperti miopia dan mata lelah.

Untuk itu, Rinvil memberikan beberapa tips kepada para orang tua agar tidak mengizinkan anaknya bermain ponsel secara rutin bahkan dengan waktu yang lama. “Misalnya hanya kita berikan kesempatan dua sampai tiga kali sepekan. Jadi ada batasan waktu yang kita berikan kepada anak,” jelasnya. (sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan