Inspirasi dan Motivasi

Bagaimana Menyikapi Penegakkan Disiplin Di Pondok

Berawal dari dialog di WA, tentang permasalahan yang dihadapi salah seorang wali santri yang putranya “diuji” dengan hukuman yang berefek anak tersebut enggan kembali ke Pondok, kemudian saya menulis ini. Bagaimana menyikapi “kemungkinan” anak kita mengalami hukuman pendisiplinan yang “berat” di Pondok. Mudah-mudahan bermanfaat.

Tentang hukuman yang bersentuhan dengan fisik yang kadang senior/mudabbir/penegak disiplin lainnya kadang “kelepasan” atau terjadi secara “berlebihan” di Pondok. Ada beberapa catatan yang ingin saya sampaikan

1. Dari hasil penelitian Lembaga Perlindungan Anak tahun 2018, di seluruh Indonesia tercatat lebih dari 80%an kekerasan terjadi pada anak-anak usia sekolah. Usia anak smp-sma adalah usia dimana belum mencapai kematangan mental dan psikologis. Biasanya ditandai dengan pengambilan keputusan yang tergesa-gesa yang kemudian berakhir penyesalan.
Dan dalam dunia pesantren, insya Allah saya sangat yakin prosentasenya jauh lebih kecil, walaupun hampir mustahil dikatakan tidak ada.

2. Tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan/tindakan pertama yang diambil anak bercermin dari yang didapatnya dimasa kecil dari lingkungannya, bisa jadi keluarganya atau lingkungan rumahnya. Dan setiap anak yang masuk pesantren tidak bisa dijamin semua berasal dari keluarga harmoni, yang terdidik apik dll, walau kita percaya sebagian besar adalah berasal dari keluarga yang terdidik agamanya, adabnya. Jadi jika itu terjadi (kekerasan itu) maka itu bisa menjadi suatu keniscayaan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya (lengkapnya tertulis di bawah)

3. Adakah pemukulan dalam proses pendidikan anak dalam syari’at? Ada! Walaupun kemudian ditafsirkan dan diperjelas dengan kadar, cara dan prosedur atau langkah2nya saat tindakan itu diambil menurut para ahli. Tapi memang ada! Dalam Hadist digambarkan pukulan bagi anak dalam usia tertentu tidak sholat. Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel mempunyai dendam yang kuat kepada gurunya, jika dia sudah selesai pendidikan dan menjadi raja, dia akan menghukum gurunya karena gurunya sering memukulnya dalam mendidiknya, tapi apa yang terjadi setelah lulus dan sang guru telah siap dan ikhlas dihukum, Al Fatih justru sangat berterimakasih. Karena jika tidak demikian tidak akan dia menjadi Panglima yang hebat. Atau bagaimana cerita ulama2 kita dahulu, orangtua2 kita dahulu dididik juga dengan rotan tapi kemudian kita mengetahui kualitas ilmu mereka, kualitas ibadah mereka yang sangat kita kagumi.

4. Bersambung dengan poin 3, ini pendapat saya pribadi, bisa jadi salah. Pendidikan agama itu butuh kepatuhan dan hikmat yang besar kepada yang lebih tua dan apalagi guru/ustadz. Kepatuhan dan hikmat yang besar ini tidak akan tercapai kecuali dengan mengalahkan ego sang murid. Dan metode “pengalahan” ego saat ini yang masih efektif untuk menghadapi crowd (jumlah besar murid) adalah dengan hukuman fisik (walau saya sangat senang jika ada metode yang bukan fisik tapi saya percaya itu hanya efektif jika muridnya sedikit, karena butuh pendekatan personal). Makanya bagi saya pribadi jika anak saya di pondok dihukum dicubit dadanya, atau ditempeleng dikit, dipukul dengan tidak berlebihan saya anjurkan anak untuk dapat ikhlas. Ini ujian mental. Dan saya yakin keikhlasan terhadap suatu proses pendidikan menuntut ilmu agama tidak akan membawa apa2 kecuali kebaikan.

5. Kita semua sepakat, kekerasan yang berefek perubahan psikis berkelanjutan pada anak kita dan na’udzubillah apalagi jika sampai berefek kecacatan bukan sesuatu yang pantas dalam dunia pendidikan. Itu harus dijauhkan sejauh-jauhnya. Kita tidak mau itu terjadi pada anak kita dan juga pada anak lain. Tapi tetap saja dibutuhkan kebijaksanaan dalam menanganinya.

Selanjutnya, belajar dari pengalaman pribadi dan juga dari walsan-walsan lain, saya menghimpun beberapa solusi dalam menghadapi “jika” terjadi kekerasan pada anak-anak kita.

1. Jika tidak ada perubahan psikis berkelanjutan (di sini ditekankan berkelanjutan, sbb jika masih awal-awal perubahan psikis bisa menjadi pembelajaran buat anak untuk lebih tegar, untuk belajar mencari pemecahan masalahnya sendiri, jika kita orang tua langsung turun tangan maka justru berefek kurang baik), LET IT BE. Anak sedang belajar “suatu sisi kehidupan”. Di sini pentingnya DIALOG dengan anak (bukan sekedar nasehat yang MONOLOG). Dialog yang berisi penghargaan, penyampain hikmah, dll. Dialog ini akan memunculkan kepercayaan diri, kekuatan. Dalam taraf ini jangan paksa anak mengungkapkan “tempaan” yang dihadapinya selama dia tidak mengeluh dan membawa perubahan psikis berkelanjutan. Percaya anak kita akan menyelesaikan permasalahannya sendiri. Nasehat ini kami coba terapkan pada anak kami, setelah dia mengalami suatu kejadian yang membuat kami berfikir macam2, tapi anak tidak mengeluhkan, kami menghargai sikapnya itu. Dan alhamdulillah kami merasakan saat ini dia memiliki mental, kedewasaan yang jauh lebih baik saat saya dulu seumur dia sekarang. Allahu a’lam.

2. Jika anak mendapat perlakuan fisik berlebihan/kekerasan dari kakak2nya yang akan berakibat perubahan psikis berkelanjutan, biasanya ditandai dengan bersikeras tidak mau pulang ke Pondok setelah liburan, ini merupakan sinyal kita sebagai orangtua untuk turun tangan. Menggali fakta untuk mencari pemecahan masalah dibutuhkan. Tapi tetap dibutuhkan KEBIJAKSANAAN. Gontor sangat tidak menolerir kekerasan fisik yang mengakibatkan trauma. Sanksi dikeluarkan siap menanti siapapun yang kedapatan atau dilaporkan melakukan hal tersebut. Sanksi jika sudah ditetapkan tidak memandang apakah dia kelas 6 yang sebentar lagi ujian, atau ini baru kejadian pertama dll, yang tersisa adalah kesedihan orangtua dan penyesalan karena studi yang terputus.

Orangtua yang anaknya mengalami perlakuan kekerasan yang belebihan, sangat pantas marah dan kecewa. Tapi tetap harus berfikir bijaksana. Utamakanlah DIALOG terlebih dahulu sebelum membuat suatu keputusan. Mengacu dari poin 2 diatas, Mudabbir yang diduga melakukan kekerasan itu biasanya kemudian menyesal. Tidak ada sesungguhnya niat untuk menyakiti. Kepadatan tugas, beban tanggung jawab, kemudian menghadapi adik-adik dengan bermacam-macam tingkah laku kadang memicu tindakan yang berlebihan. Dan terkadang setan berhasil menggoda salah satu dari mereka untuk bertindak berlebihan. Berdialoglah dari hati ke hati tibatan melaporkan yang berefek mudabbir itu dikeluarkan. Jika tersentuh mudabbir itu bukan tidak mungkin dia berbalik menjadi “Guardian Angel” bagi anak kita sebagaimana kakak kandung ke adiknya. Insya Allah.

3. Jika cara di atas tidak berefek, maka baru langkah akhir kita tempuh. Kita tidak mau anak kita terus tersakiti dan bisa jadi juga anak walsan lain. Dan kita khawatirkan jika ini berlanjut akan membawa efek buruk bagi anak bahkan bagi POndok. Bagian Pengasuhan Pondok menerima prosedur pelaporan untuk kasus-kasus seperti ini. Setelah proses penyelidikan maka keputusan yang ditetapkan tidak bisa diganggu gugat.

Terakhir …, ini pembelajaran hidup. Santri-santri di Gontor itu bukan hanya belajar agama dan pelajaran umum, tapi sungguh-sungguh belajar kehidupan yang berharga yang sulit ditemui di lembaga pendidikan lain. Ini dibuktikan dengan kualitas lulusan mereka: Tahan banting, pejuang sejati, full of ikhlas, pembelajar dll. Semoga Allah senantiasa menjaga putra-putri kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan