Hanya di GontorInspirasi dan Motivasi

Mazhab Gontor

Eit bentar dulu, ini bukan mazhab Fiqh ya … tapi tidak bisa dipungkiri, disengaja atau tidak, Gontor benar-benar menciptakan suatu Mazhab baru dalam dunia pendidikan di Indonesia atau mungkin dunia. Kekhasan pola dan corak pendidikannya bukan saja dilirik tapi benar-benar dipelototi untuk ditiru dan diteladani. Dan bukan hanya dari lokal Ponorogo tapi juga seluruh Indonesia dan juga dunia.

Sistem pendidikan model Gontor tidak besar karena media atau sekedar pujian rekayasa untuk menaikkan nilai jual dan juga tidak dengan brosur atau pamflet atau pameran pendidikan untuk menarik minat orang mendaftar tapi karena benar-benar telah memberikan kontribusi yang besar dalam banyak hal:

👉  Mencetak kader ulama, tentu
👉  Pendidikan, guru-guru, dosen bahkan rektor dan juga sistem pendidikan, jelas
👉  Politik, banyak
👉  Penulis, pasti
👉  Motivator, unggul
👉  Birokrat, pejabat lurah sampai menteri, tercatat
👉  Ormas-ormas Besar, mengetuai
👉  Pengusaha, bejibun
👉  Diplomat-diplomat, tersebar di hampir seluruh dunia,
👉  dan masih banyak bidang lain

Iklan dan promosi Gontor adalah alumninya. Tidak melulu disampaikan dengan banyak tulisan, yang dibuat tulus karena kecintaan dan bukan untuk mengharap pujian dari almamater, tapi juga dalam peran dan karyanya.

Dalam peran dan karya ini juga memiliki kekhasan karena ternyata (kebanyakan) alumni besar dan menyedot perhatian dari peran dan karyanya terlebih dahulu daripada menjual nama besar Gontor untuk ingin menjadi besar. Sebelum kenal Gontor, penulis sudah banyak mengenal nama-nama besar seperti Idham Khalid, Hasyim Muzadi, Dien Syamsudin, Hidayat Nur Wahid atau beberapa rektor atau guru-guru besar perguruan tinggi, penulis terkenal, pejabat, politikus, atau bahkan guru agama atau ustadz di daerah, yang dikenal dan dikagumi dari perannya, karyanya dan jabatannya kemudian setelah ditelusuri baru ketahuan ternyata almamaternya adalah Gontor. Pantas!

Walau tidak disangkal juga, ditenggarai ada juga alumni yang “kadang nekat” menjual nama Gontor terlebih dahulu untuk terkenal atau untuk kepentingan politis kelompok atau pribadinya. Ini tentu bukan suatu prestasi.

Kembali Tentang Mazhab Gontor

Mazhab (pendidikan) Gontor tidak muncul secara instan dan juga asal buat. Tapi penulis berhipotesis, Allah memang menakdirkan Gontor untuk menjadi salah satu mode acuan dalam dunia pendidikan. Siapa yang membayangkan sebelumnya bahwa Trimurti Pendiri Pondok yang merupakan saudara kandung dari satu rahim tapi masing-masing memiliki komponen penting tersendiri untuk terbentuknya suatu sistem pendidikan yang unggul dan integral:

➤  KH Ahmad Sahal dengan karakteristik spiritualitas dan daya asuh yang luar biasa
➤  KH Zainudin Fanani yang meletakkan dasar-dasar pergerakan dan pembaharuan pemikiran di Gontor
➤  KH Imam Zarkasyi sebagai peletak dasar Kurikulum dan sistem pendidikan di Gontor.

Dan semua komponen itu menghasilkan apa yang disebut dengan PANCA JIWA (Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, Jiwa Bebas) dan PANCA JANGKA (Pendidikan dan Pengajaran, Kaderisasi, Pergedungan, Pengadaan Sumber Dana, Kesejahteraan Keluarga Pondok) yang  terumuskan dalam strategi pendidikan (Kehidupan Pondok dengan segala TOTALITASNYA menjadi media pembelajaran dan pendidikan, Pendidikan berbasis komunitas: segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami oleh para santri dan warga Pondok dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan.) yang berorientasi untuk keislaman, keilmuan dan kemasyarakatan, yang kemudian semua tersinkronisasi dalam suatu keintegralan pendidikan yang kemudian kita kenal dengan sistem pendidikan Pesantren Modern.

Pondok itu berjiwa modern”, KH. Hasan Abdullah Sahal, salah satu pimpinan saat ini dalam tradisi trimurti, pernah mengatakan itu suatu kali. “Modern di sini“, lanjut beliau, “di antaranya berarti berpikir integral, berpikiran maju, tidak dikotomis, adil dan menghargai efisiensi waktu“.

Berpikiran integral, berarti tidak parsial ataupun sekular. Tidak melulu duniawi ataupun hanya akhiratnya saja, melainkan keduanya. Di Gontor, kurikulum dan pola hidup dibentuk secara integral. Ada pelajaran agama dan pelajaran umum. Masing-masing dengan porsi 100% bukan 50% – 50%. Ada pembentukan karakter (tarbiyah) dan gerakan belajar mengajar (ta’lim). Pengembangan sumber daya manusia dimaksimalkan, untuk suatu totalitas pendidikan.

Dengan segala ruh dan dinamika yang terbentuk  dari pengalaman sedemikian rupa, maka  benar kata Ustadz Oki,  Gontor tidak  akan bisa diduplikasi.  Gontor  hanya akan menjadi mazhab acuan walau tidak tertutup kemungkinan yang menganut  mazhab ini bisa lebih baik  dari Gontor, tapi penulis yakin lebih baik hanya di satu  atau  beberapa sisi, tapi bukan  segala dinamika, sejarah  dan kebesarannya keseluruhan, karena pengalaman tidak  bisa disusul. Wallahu a’lam (riM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan