Inspirasi dan Motivasi

Inspirasi Wali Santri: Biarkan Air Mata itu Mengalir

Anak dari kecil kita asuh, kita peluk, kita sayang, kita didik kemudian setelah jauh maka dipastikan kerinduanlah yang senantiasa menghampiri kita. Tidak seperti saat dekat dengan kita yang mana kebutuhan, keluhan, ceria anak bisa langsung kita respon. Maka disaat jauh tidak ada hal yang paling utama kita lakukan selain menitipkan penjagaanya kepada Sang Maha Pengasih dan Pemelihara yaitu Allah.

Dibutuhkan keikhlasan yang tidak mudah melepas anak yang baru lepas SD untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh. Anak yang masih lugu yang tadinya sering merengek dan sering bersandar pada kita setelah lelah bermain. Yang menjadi pelepas kepenatan kita saat bercanda dengan mereka. Tidak semata keikhlasan terbentuk kecuali karena harapan agar anak dapat menuntut ilmu agama yang lebih baik dari yang bisa diajarkan ayah bundanya.

Kehidupan di tengah teman-teman sebaya, diasuh oleh “orangtua-orangtua” pengganti yang hanya seumuran kakaknya tentulah sedikit banyak menimbulkan kegelisahan di hati orangtua. Tapi Ayah Bunda lepaskanlah mereka dengan doa seperti saat Ibunda Imam Syafi’i melepas buah hatinya:

“Ya Allah, Rabb yang menguasai seluruh alam. Anakkku ini akan meninggalkanku untuk perjalanan jauh demi mencari ridhaMu. Aku rela melepasnya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Maka hamba memohon kepadaMu ya Allah… mudahkanlah urusannya. Lindungilah ia, panjangkanlah umurnya agar aku bisa melihatnya nanti ketika ia pulang dengan dada yang penuh dengan ilmu-Mu.”  

Berharaplah seperti harapan Ibunda Imam Syafi’i:  

“Allah bersamamu. Insya Allah engkau akan menjadi bintang paling gemerlap di kemudian hari. Pergilah… ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong”

Maka jika keikhlasan itu tercipta maka status selanjutnya bagi anak kita adalah para mujahid, mujahid ilmu di jalan Allah. Jika sudah di dalam jalan mujahid itu, maka yakinlah keringat, lelah, sibuk, tangis, kerinduan, lapar, sakit bahkan terluka akan menjadi peningkat kualitasnya. Insya Allah.  

Baca Juga:
👉 Doa Buat Anak kita Di Pondok (Bag. 1)
👉 Ustadz Oky: Kualitas Mental yang Menentukan, Bukan Sekedar Intektual 👉 Terima Kasih Abi, Umi, Kau Pilihkan Jalan Terbaik Sehingga Aku Syahid di Hadapan Allah
👉 Pesan & Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal

Ayah, Bunda biarkan airmata kerinduan itu sering menetes. Tetesan itu bisa kita adukan kepada Allah. Setiap tetesan itu menempatan kita di posisi yang benar-benar butuh akan Allah, suatu posisi yang sering dilupakan manusia. Ketidakmampuan kita untuk langsung memeluk anak disaat sedih, menolongnya disaat terluka membuat kita benar-benar membutuhkan Allah untuk menjadi wakil itu semua, karena kita sering lupa lupa bahwa anak kita sesungguhnya milik Dia.

Ayah Bunda, sesungguhnya tanpa kita sadari salah satu keberkahan dari keikhlasan itu justru membuat kita lebih dekat kepada Allah

Maka harapan inilah yang bisa menjadi “argumen” kita saat menghadap Allah dalam doa agar Sang Rahim senantiasa menjaga anak kita, agar Sang Rahman senantiasa merawatnya.
(Terinspirasi dari Ibu Tari, walsan G1 yang anaknya lagi dirawat di rumah sakit, semoga Allah sembuhkan sakit anaknya, kesabaran menambah pahala, keikhlasan melembutkan hati, dan kembali dapat berjuang menuntut ilmu seperti sedia kala.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan