Cerbung dan Kisah HikmahInspirasi dan Motivasi

Kisah Inspirasi: Skenario Menghalagi Anak Masuk Pondok yang Gagal.

Beberapa hari yang lalu dapat telepon dari seorang ibu WalSan GP3. Hampir sejam!! Masya Allah, seperti teman lama, padahal baru kali itu berkomunikasi. Disamping bertanya tentang Lapak Walsan,  Beliau bercerita tentang “kisah” bagaimana bisa anaknya masuk Pondok. Sangat inspiratif. Dan selalu kisah-kisah seperti ini memang benar-benar menjadi inspirasi dan juga motivasi. 

Mendapat kisah-kisah seperti ini bagi walsan seperti mendapat hidangan buah segar di hari yang terik. Kadang kisah-kisah ini seolah-olah menjadi hiburan atas kegundahan para walsan saat berjauhan dengan pangeran atau putrinya


Ibu ini dan suaminya sama sekali tidak terfikir untuk memasukkan  putrinya ke Gontor saat itu. Pilihan utama adalah Sekolah Negeri, mengingat biaya. Karena sekolah negeri sekarang gratis. Sang Anak dari jauh-jauh hari sudah minta kepada orangtuanya untuk masuk pesantren jika lulus. Mereka hanya menganggap itu permintaan yang mungkin sebentar lagi bisa berubah.

Tapi tanda-tanda perubahan tidak tampak. Maka orangtua ini membuat skenario. Bersama gurunya diatur seolah-olah sang putri diterima disuatu sekolah. Putrinya diajak. Tapi apa yang terjadi?! Putrinya mengetahui skenario itu! “Ma, koq dibawa ke sekolah ini? Kan aku mau ke pesantren. Kalo Mama suka sekolah ini Mama aja yang sekolah di sini!” 😱😱

Akhirnya orang tua ini menyerah. Setelah menghitung-hitung rencana kebutuhan dan mengumpulkannya, mereka akhirnya ke Gontor Putri. Dalam perjalanan sang orangtua masih berusaha merubah pikiran sang putri dengan cara “menakut-nakuti” kalo sekolah di pesantren itu “serem”, tapi sang putri  tak bergeming.

Sampai di Pondok sang putri berteriak, “Nah, sekolah seperti ini yang aku mau!!”. Sang Ibu dengan senjata pamungkas memberi “ancaman” terakhir: “Kalo kamu disini, Mama bakal jarang datang lho”. Sang Putri menjawab, “Ga pa pa Ma, di sini kan banyak juga yang jarang didatangi sama orangtuanya, jadi aku banyak teman.” Sang Ibu tottaly surender 😁.

Saat di rumah, sang Ibu dan Suaminya benar-benar ga mau “kecolongan” lagi pada anak yang berikutnya. Juga seorang putri. Kembali biaya yang jadi pertimbangan.

Anak satu aja di pondok mereka “berjihad” sungguh-sungguh buat memenuhi kebutuhannya, apalagi kalo dua orang. Mereka sama sekali tidak ada ide bagaimana nanti membiayai. Tapi qodarullah, sang Putri satu lagi ini juga ingin seperti kakaknya: ke GONTOR! 😭.

Kembali segala skenario gagal. walau kakaknya yang sudah dipondok itu juga, mungkin karena sayang sama Ibunya, berusaha menakut-nakuti sang adik. Tapi gagal. Sang orangtua kembali menyerah. 

Sampailah si adik di pondok. Saat ujian masuk sang adik “bertingkah” berani dan menggemaskan. Anak yang baru lulus SD ini saat ditanya Pemguji dalam test wawancara tentang rencana kalau gagal dalam test masuk pondok, sang anak menjawab, “saya pasti masuk Gontor Tadz!” katanya yakin.

Ditanya lagi, “seandainya tidak masuk?“. Sang anak kembali menjawab,, “Saya pasti masuk Tadz!“. Sang Ustadz pun menyerah.

Bahkan sang Anak kembali berdiri, berkata kepada ustadz penguji, “Tadz, nanti, tolong masukkan saya ke GP 3 ya, biar sama dengan kakak saya,” katanya kalem. Yang saya bayangkan mungkin ustadz penguji saat itu bengong,”Nih anak pede amat!” 😁

Tibalah saat pengumuman. Mengingat anaknya ga mau sekolah kalo ga di Gontor, kali ini sang Ibu benar-benar berpacu jantung menanti saat-saat pengumuman.

Saat pengumuman untuk penempatan GP1, nama sang anak tidak disebut. Sang Ibu makin cemas. Penempatan GP 2, kembali nama anaknya tidak disebut. Sang Ibu bergetar, kecemasan puncak (hanya walsan gontor yang paham kecemasan ini, hehehe).

Dan tibalah pemgumuman buat penempatan GP3. Nomor urut demi nomor urut kembali didengar dengan seksama saat angka makin mendekati nomor urut anaknya, adrenalin makin meninggi, dan akhirnya … sang adik diterima persis seperti keinginannya: GP3.

Mereka sujud sambil tidak henti bersyukur, dengan tumpahan air mata bahagia. Masya Allah!!.

Lalu bagaimana akhirnya orangtua ini membiayai anak-anaknya di Pondok? Ternyata benar janji Allah, jika Allah menghendaki suatu kebaikan maka Allah akan buat seseorang itu cenderung kepada kefaqihan agama.

Anak-anak yang mau belajar agama adalah suatu karunia luar biasa. Dan itu pasti Allah yang menggerakkan. B

ahkan teman ibu tadi ada yang bercerita, “kami mati2an agar anak kami mau masuk pesantren tapi mereka ga mau. Anak ibu malah mau sendiri, luar biasa!

Dan jika pasrah kepada jalan Allah maka Allah akan siapkan prasarana pendukungnya. Sang Ibu dan suaminya yang tadinya besar kekhawatiran akan biaya, justru tidak menyangka bisa sejauh ini membiayai putri-putrinya. Bahkan kadang rezeki datang tanpa diduga.

Tadinya boro-boro bisa umroh, terfikir aja tidak mungkin karena kekhawatiran biaya sekolah, malah sekarang bisa berhaji. Dulu sangat jarang pulang kampung ke Padang saat lebaran, sekarang justru hampir tiap tahun. Masya Allah!!

Rencana Allah itu misteri. Anda ikuti KehendakNya, maka Dia akan tunjukkan jalan. Benar-benar kisah yang “mengetok” kepala kami, yang masih belum yakin akan janjiNya. 

Terima kasih Bu akan share pengalamannya. Sungguh membuat kami malu dengan Allah. 
(Kisah ini sudah mendapat izin dari Ibu yang bersangkutan untuk dishare di blog ini, Ibu 2 Putri luar biasa di GP3).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan