Hanya di GontorKolom Ustadz Oky

Ustadz Oky: Gontor, Tidak Akan Pernah Bisa Didupilkasi

Saya harus menarik nafas panjang sebelum menulis tulisan ini, setelah menjalani 12 tahun kehidupan di luar Gontor. Mengajar dari satu pesantren ke pesantren lain, sampai akhirnya sekarang mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah di sebuah pesantren, baru saya akhirnya tiba pada titik kesadaran ini, betapa sulitnya menerapkan sebuah sistem yang Jujur, terbuka, apa adanya, sederhana, sungguh-sungguh, telaten, amanah, dijaga dan terjaga selama hampir satu abad usianya.

Semua hal yang membuat saya terkagum itu membentur kepada satu kekuatan untuk menduplikasinya : Birokrasi dan Sistem yang payah meskipun di sebut lebih modern. Saya yang dulu banyak membandingan pendidikan di Gontor dan luar, sering terheran-heran dengan cara pendidikan di luar yang sama sekali diluar sistem pendidikan, sekarang harus berdiri dalam kegamangan, bahwa saya sendiri, ternyata harus melakukan sesuatu yang dulu saya cela habis-habisan, alasannya Cuma satu : Birokrasi yang super sulit dan sama sekali tidak transparan.

Ketika dulu saya bicara tentang kejujuran Gontor, saya mungkin lupa, bahwa Gontor sudah jauh kebih siap untuk tidak berurusan dengan diknas atau depag sekalipun. Gontor lebih memilih Ijasah tidak diakui oleh diknas, dariapada harus mengganti kurikulum yang sudah berjalan.

Hal ini yang sama sekali tidak bisa dimiliki oleh sekolah manapun di Indonesia ini saya kira. Cuma kekaguman yang sekrang saya miliki, dan dimata Gontor, debu seperti saya ini jelas tidak ada artinya.

Kedua adalah, Gontor sudah menciptakan tata hidup dan pola pesantren tersendiri. Pola yang sejak dulu berbeda dengan sekolah diluar. Ajaran barunya beda, liburnya jelas beda, kegiatannya juga amat sangat berbeda, maka Gontor bisa dengan mudahnya mengatur seluruh santri Liburan selama 50 hari dirumah ketika Ramadhan.

Gontor dengan santainya menjadwal laporan OPPM di pagi hari sehingga meliburkan santrinya. Gontor juga dengan mudahnya melakukan karantina , amaliah, ujian, yang itu sama sekali tidak mengganggu pola kehidupan pesantren yang ada.

Sedangkan diluar, kesluitan kita adalah ketika hal itu berbenturan dengan tata aturan pendidikan nasional yang berbasis jam mengajar. Hasilnya? Ya jelas beda jauh… Soal peguasaan bahasa Arab dan Inggris, Gontor juga dengan mudahnya mengawal hal ini dengan Guru yang ada di dalam kampus keseluruhan adalah alumni Gontor.

Mata pelajaran umum di ajar oleh alumni Gontor, mata pelajaran pesantren apalagi, harus di atur oleh alumni Gontor. Sedangkan diluar, mau tidak mau kita harus bedakan, mana mata pelajaran umum yang diajar oleh Guru-guru yang belum tentu bisa bahasa Arab. Dan mata pelajaran pesantren, yang belum tentu bisa menguasai pelajaran umum.

Disinilah kesulitannya, banyak para santri yang akhirnya bahasanya asal kena, tidak terkawal dengan baik, tidak terkontrol, karena memang kondisi mereka menuntut seperti itu. Tidak semua Guru faham bahasa Arab atau Inggris. Ini susahnya.

Yang ketiga yang membuat Gontor sudah di duplikasi adalah, karena masing-masing pribadi alumni Gontor itu punya pandangan sendiri-sendiri soal hal yang membesarkan Gontor.

Umpamanya dulu di Gontor dia mantan bagian pengajaran, maka biasanya jika dia ingin mendirikan pesantren maka pengajarannya yang akan di tonjolkan. Jika dia dulu seorang pramuka, maka biasanya pramukanya yang akan menjadi perhatian utama jika dia mendirikan sebuah pesantren, jika dulu di Gontor dia bagian olah raga, maka fasilitas olha raga yang akan lebih di prioritaskan. Yang dulunya di FP2WS (Forum Dikusi Santri Gontor) tentu akan memperhatian kualitas keilmiahan santri binaanya dibanding yang lainnya.

Kita mungkin lupa, bahwa pramuka Gontor itu bisa maju dan mempesona banyak orang adalah karena pengajarannya sesuai dan serasi, bahwa ajaran di Gontor itu bisa serasi juga karena adanya peran pramuka yang baik, bagian olah raga di Gontor itu tahu segala hal tentang olah raga, adalah karena wawasan mereka berkembang terus berkat bimbingan para asatidz di Pusdac (Pusat diskusi para santri) begitu pula diskusi, bisa berjalan baik jika olah raga denga teratur dibawah bimbungan bagian olah raga. Semua jadi satu, tidak terpisah dan terpecah…

Ah…masih banyak hal lain yang membuat saya harus banyak mrenung lagi…Gontor adalah Gontor…tidak akan bisa di duplikasi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan