Hanya di GontorInspirasi dan Motivasi

12 Perubahan WaliSantri Saat Sudah Memasukkan Anaknya ke Gontor

Saat ini menyekolahkan anak ke Pondok bukan lagi suatu yang jarang kita temukan. Bahkan cenderung kita lihat perkembangan kuantitas dan kualitas dan menyentuh pada  semua tingkat sosial, dari anak petani hingga pejabat, dari anak RT hingga ponakan Wakil Presiden, dari Tukang Ojek hingga pemilik ratusan armada transportasi, bahkan dari anak preman hingga anak Kiai.
Ini adalah sesuatu yang menggembirakan.

Tapi sadarkah kita ketika sudah memasukkan anak ke pondok ternyaya ada pula beberapa perubahan pada kita, para walisantri baik pada sikap dan kebiasaan. Perubahan-perubahan apa sajakah itu? Penulis menemukan beberapa dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain.  

1. Doa buat anak lebih intensif.

Memasukkan anak ke Gontor adalah “sesuatu”. Gontor yang terkenal disiplin tanpa kompromi, beban pelajaran yang menumpuk dll tidak jarang membuat walisantri harap-harap cemas, ada yang mengistilahkan sport jantung  sehingga walisantri mengintensifkan doa-doanya buat anak tercinta. Berharap anaknya dilindungi Allah dan diberi kemudahan dan kelancaran dalam studinya.

2. Teringat Anak saat makan

Ilustrasi makan bersama keluarga (foto: google.com)

Saat makan sering teringat dengan Sang buah hati. Apalagi saat makan enak, rasa menjadi hambar saat terfikir anaknya makan sederhana di pondok. Tidak jarang beberapa walisantri menunda makan enaknya, menunggu hingga saat liburan sang anak.  

3. Cari Grup WA atau FB Walisantri

Sibuk mencari grup-grup walisantri baik di Facebook atau WA. Jika bertemu dengan sesama walsan sering bertanya apakah ada grup per kelas anaknya, atau perdaerah atau per konsulat dll  

4. Jadi “Kepo”

Berhubungan dengan nomor 3, wali  santri haus akan informasi tentang pondok terutama anaknya. Berusaha mengintip-intip grup WA siapa tau anaknya kena _candid camera_. Dan jika melihat anaknya terfoto kebahagiaannya jangan ditanya  terutama buat Emak-emak.  

5. Rutin jadi turis lokal

Bakal sering ke luar kota dibanding saat sebelum menitipkan anak ke pondok. Bakal sering cek harga tiket. Pada beberapa walisantri bahkan intensitasnya bisa perbulan atau beberapa kali dalam sebulan. Walau sebenarnya pondok menyarankan anak dikunjungi paling banyak 3 bulan sekali.  

6. Wanted Phone Ring Syndrome

Selalu berharap telepon yang berbunyi dari buah hatinya dipondok. Bahkan bisa membuat uring-uringan orangtua terutama Bundanya saat lama tidak mendapat kabar.  

7. Pengeluaran meningkat

Pengeluaran menjadi lebih besar untuk keperluan sang buah hati, terutama saat menengok anak, mulai dari ongkos, penginapan, dan makan anak sekaligus traktir temannya   

8. Cari penghasilan tambahan

Sehubungan dengan nomor 7, orangtua jadi lebih semangat menambah dan mencari sumber penghasilan tambahan agar studi anak tidak terhambat. Contohnya: yang nulis ini nyambi jadi blogger 😁  

9. My Mudhif My Adventure

Siap-siap menjadi “pecinta alam” dadakan Jadi harus siap terbiasa tidur beralas kasur tipis, tanpa selimut bahkan disaat musim kunjungan banyak walisantri tidur di tempat terbuka memaksakan bersahabat dengan angin malam dan dingin.  

10. Jadi lebih sholeh (maksakandiri. com 😁)

Memasukkan anak ke Pondok menginspirasi orangtua juga untuk lebih mendalami ilmu agama. Suatu jalan kebaikan yang Allah anugrahkan saat menunjukkan anak belajar agama 😇.  

11. Mendadak Sastrawan, mendadak filosofis 😀

Tidak sedikit walisantri jadi tiba-tiba suka menulis, minimal menulis curhatan, atau bahkan menjadi Filosof dengan untaian kalimat-kalimat bijak. 😁

12. Sang Ayah jadi melankolis

Tidak sedikit seorang ayah menjadi melankolis 😁, meneteskan air mata saat rindu sang anak. Ada cerita, saat anak berangkat lagi ke pondok sehabis liburan, sang ayah sepanjang jalan ketempat pemberangkatan gencar menasehati anak harus kuat, jangan  nangis kalo ingat rumah dll. Sang anak semangat, tp pas anak sudah brngkat, sepanjang jalan di motor mata sang ayah tidak berhenti tergenang, bahkan menetes. 😊

Demikianlah, mungkin masih ada yang lain tapi saat ini hanya ini yang teringat. Mudah-mudahan menambah semangat kita untuk menjadi walisantri yang dibanggakan oleh anak-anaknya. Aamiin (RiM, pagi yang rintik di Sukabumi)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan