Hanya di GontorKabar Pondok

Gontor dan Kreativitas

Rasa heran dan kagum akan menyelimuti orang yang pertama kali menyaksikan pentas seni santri pada puncak acara pekan perkenalan pondok. Tidak terkecuali santri-santri baru. Mereka juga akan terpukau melihat pertunjukan seni kolaboratif kakak kelas mereka, yang dikenal dengan istilah “Drama Arena” atau “Panggung Gembira” itu.

Tentu saja mereka bertanya-tanya sekaligus takjub dengan kemampuan santri menampilkan hasil kreativitas berkelas di atas panggung megah dan meriah. Orang-orang yang baru pertama kali melihat pagelaran seni ini seakan tidak percaya kalau santri-santri bisa menampilkan kreasi memukau dengan cita rasa seni yang tinggi, bahkan mengusung misi Islami. Jika mereka tahu prosesnya, maka keheranan itu tidak akan menghampiri.

Hanya kekaguman dan kesyukuran di hati melihat generasi muda yang kreatif terlahir dari dunia pesantren.

Melalui pentas seni terbesar di awal tahun itu, Gontor memperlihatkan kepada dunia bakat dan potensi santri. Mereka tidak hanya pandai mengaji dan rajin ke masjid. Mereka juga tidak hanya pandai berpidato atau ceramah di depan jamaah. Akan tetapi, mereka adalah generasi muda kreatif yang memiliki segala potensi dan keterampilan. Sehingga, bisa berdakwah di jalan masing-masing sesuai keahlian dan keterampilan yang dimiliki.

Gontor telah mempersiapkan mereka sejak dini dengan menggali potensi dan bakat masing-masing. Tidak bisa dipungkiri, setiap santri memiliki minat dan bakat yang beragam. Jika tersalurkan dan dikelola dengan baik, maka lahirlah manusia-manusia kreatif dan inovatif. Beberapa santri telah menyadari minat dan bakatnya sejak awal masuk pondok, tapi tidak sedikit yang bakatnya masih terpendam, minatnya pun masih belum jelas.

Related Articles

Di sinilah Gontor berperan mengembangkan bakat dan minat santri-santrinya, sekaligus menggali potensi terpendam yang tak pernah disadari oleh mereka.

Untuk itu, Gontor berupaya menyediakan segala sarana yang menunjang kreativitas santri-santri. Mereka yang memiliki minat di bidang seni kaligrafi bisa mengikuti kursus bersama Asosiasi Kaligrafer Darussalam (Aklam). Berbagai hiasan kaligrafi yang bisa dilihat di berbagai tempat di Gontor merupakan kreasi anak-anak Aklam.

Sebenarnya, seni kaligrafi yang dibina Aklam adalah pengembangan dari pelajaran khat di kelas. Sedangkan santri yang suka menggambar dan melukis atau membuat ornamen-ornamen indah dan berbagai kerajinan tangan bisa bergabung dengan Lintas Imajinasi Santri (Limit) atau Gabungan Santri Terampil Darussalam (Gastrada). Biasanya, hasil kesenian dan keterampilan mereka tersimpan rapi di dalam ruangan khusus yang disebut Art Gallery.

Penampilan MBGND

Sementara untuk menggali potensi santri di bidang musik, Gontor membentuk Darussalam Musicians (DAMS) Family dan Seni Hadrah Darussalam (Senhada). Melalui kedua kursus seni musik ini, santri-santri dapat mengembangkan bakat mereka dalam olah vokal atau memainkan berbagai alat musik. Lebih dari itu, mereka mampu membuat lagu sendiri hingga terbentuk album. Gontor juga memiliki grup nasyid yang dikenal dengan “Ansyada”. Grup nasyid ini telah meluncurkan beberapa album yang dikenal luas oleh masyarakat.

Selain grup nasyid, Gontor juga membentuk grup marching band yang dinamakan MBGND atau Marching Band Gema Nada Darussalam. Selama perjalanannya, MBGND berhasil membangun reputasi dan telah memiliki prestasi yang membanggakan. Di antaranya, Marching band milik Gontor ini pernah menjuarai Hamengku Buwono (HB) Cup pada tahun 1999 dan 2001.

Pada tahun 2003, saat kembali mengikuti HB Cup di lapangan Mandala Krida Yogyakarta, MBGND meraih Juara I Lomba Parade, Juara I Colour Guard, dan Juara II Divisi A. Kemudian MBGND berhasil meraih Juara II kategori Colour Guard di Senayan saat mengikuti Grand Prix Marching Band (GPMB) 2005. Lebih dari itu, MBGND pernah mendapat undangan dari Presiden RI untuk tampil dalam Parade Senja di Istana Merdeka pada tahun 2002.

Ada juga seni bela diri yang dikembangkan Persatuan Bela Diri Darussalam (Perbeda). Jenis bela diri yang diajarkan di Gontor menyerupai pencak silat, sesuai dengan budaya asli Indonesia.

Kejuaraan Perbeda di Gontor

Akan tetapi, gerakannya lebih variatif. Santri-santri terlihat gagah dengan baju resmi Perbeda berwarna merah itu. Mereka berlatih setiap sore untuk menguasai berbagai jurus dan variasi gerakan.

Untuk seni teater, santri-santri bisa mengikuti kursus yang diadakan Association of Reanimation Moslem Artist Darussalam (ARMADA). Di sini mereka bisa mengasah bakat di bidang seni peran. Ada latihan menjadi lakon dalam sebuah drama, seperti drama komedi dan pantomim. Selain itu, di Armada juga diajarkan membuat puisi sekaligus membaca atau mendeklamasikannya. Melalui kursus ini, santri bisa berekspresi semaksimal mungkin, tapi tetap dengan nafas keislaman.

Masih banyak ragam kreativitas santri dalam berbagai bidang seni dan keterampilan di Gontor. Jadi, bisa dikatakan, apapun bakat dan minat santri dapat tersalurkan dan terasah dengan baik di Gontor. Dengan syarat, mereka bersungguh-sungguh dan terlibat aktif mengikuti setiap program pondok.

Dalam menggali dan mengasah bakat santri, Gontor memberi keleluasaan untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki. Seorang santri boleh saja mencoba satu per satu kursus yang ada di Gontor, hingga menemukan keahliannya yang belum tergali. Selain itu, santri-santri juga bisa berinovasi mengembangkan kreativitas mereka.

Apalagi, jika ada di antara mereka yang telah memiliki kreativitas mumpuni sebelum masuk Gontor, maka ia akan mengajari santri-santri yang lain, membuat kesenian dan keterampilan di Gontor makin berkembang.

Terbinanya kreativitas santri di Gontor dengan inovasi tiada hentinya membuat pondok ini seperti lahan berkreasi. Muncullah santri yang pandai di berbagai bidang seni dan keterampilan.

Jangan heran lagi jika terdapat santri Gontor yang mampu menghasilkan kaligrafi indah seperti terukir di bangunan-bangunan megah Timur Tengah. Jangan pula kaget jika menemukan santri Gontor yang bisa membuat lukisan sekelas Pablo Picasso. Atau, bisa jadi Anda akan menemukan seorang musikus dari Gontor yang setara dengan musisi legendaris Johann Sebastian Bach, atau setidaknya sekelas Iwan Fals dan Rhoma Irama.

Namun, yang paling penting, melalui berbagai kreasi itu santri bisa berdakwah menyebarkan Islam. Memasukkan nilai-nilai Islam di dalam berkreasi akan memudahkan proses Islamisasi karena seni bisa menyentuh berbagai lapisan masyarakat, dari kalangan atas hingga kalangan bawah. Di Gontor, seni bukan untuk seni, tapi seni untuk Islamisasi.*elk

 https://www.gontor. ac.id/catatan/gontor-dan-kreativitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan