Berita MediaSerba-Serbi

Belajar Memanah di Padepokan Pesantren Gontor

Apa jadinya jika 18 diplomat wanita belajar olahraga panahan di Pondok Pesantren Gontor? Suasana seru dan riang gembira sangat kental terasa.

Di zaman modern seperti sekarang, olahraga panahan memang tidak sepopuler olahraga lain seperti bulutangkis, tenis atau bahkan maraton. Tapi hal itu tidak membuat peserta putri Sekolah Dinas Luar Negeri (Sesdilu) Angkatan 60 Kementerian Luar Negeri tidak bersemangat ketika berkesempatan untuk menjajalnya di Pondok Pesantren Gontor Putri I di Mantingan, Jawa.

Bagaikan anak kecil di toko mainan, 18 orang diplomat wanita peserta Sesdilu tampak sangat antusias saat berpartisipasi pada sesi olahraga panahan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari serangkaian Program Kunjungan dan Tukar Pikiran pada Kamis (12/4) hingga Senin (16/4) di Universitas Darussalam, Gontor.  

Sebagai pesantren modern, pihak pengasuh Gontor Putri telah lama memberikan pelajaran olahraga panahan kepada santriwati. Ternyata bagi umat Islam, panahan menempati posisi yang istimewa karena merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Karena inti dari olahraga panahan adalah menembakkan anak panah ke sasaran, maka peserta dikenalkan pada 7 teknik dasar panahan yakni sikap berdiri (stand), memasang ekor panah (nocking), mengangkat lengan busur (extend), mengaitkan dan memegang panah (hooking and gripping), menarik tali busur (drawing), penjangkaran lengan penarik (anchoring) dan penahan sikap panahan (tighten).  

Pemanasan untuk kelenturan dan Kekuatan

Sebelum memulai panahan, instruktur panahan meminta para peserta untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Ternyata meski sering dianggap sebagai olahraga yang tak membutuhkan banyak gerakan, panahan juga membutuhkan pemanasan khusus berupa gerakan melenturkan tangan, kaki dan otot leher. Tujuannya adalah agar tubuh bisa lebih lentur dan kuat.

Sumber Foto: Rifana Indira

Berdiri dan Memasang Ekor Panah

Selesai dengan pemanasan, waktunya peseta mengenal teknik panahan pertama yakni sikap berdiri (stand). Sikap ini adalah ketika pemain panahan pada posisi berdiri dengan kaki tegap dan kuat menumpu di permukaan tanah yang dipijak. Teknik kedua adalah memasang ekor panah (nocking) yakni memasukkan ekor/ujung panah ke nocking point atau anak panah ke tali busur dan meletakkan shaft atau gandar di sandarannya.

Dalam tahap ini, pemain harus memastikan bulu ekor panah sudah benar-benar masuk secara tepat ke tali. Hal ini sangat penting karena terbangnya anak panah pasti akan terganggu bila anak panah terlalu besar ataupun longgar. Karena sebagian besar peserta awam dengan panahan maka cara memegang busur panah pun cukup menyulitkan. Banyak peserta yang meleset dalam memasang busur panah di tali busur. Tapi setelah mencoba beberapa kali akhirnya semua peserta berhasil memasang busur panah secara sempurna.  

Mengenal busur

Setelah berdiri dan mengaitkan ekor busur dengan benar, peserta dikenalkan dengan teknik ketiga yakni mengangkat lengan busur (extend). Dalam teknik ini, pemain panahan meletakkan tali busur pada ruas-ruas jari pertama. Pegangan busur diberikan tekanan secara cukup dari telapak tangan yang dijadikan penahan busur. Untuk lebih jelasnya, tekanan ada pada tengah titik V yang terbentuk dari ibu jari dan jari telunjuk pada lengan yang sedang memegang busur. Agar eksekusi panahan berjalan lancar, pemain harus dapat menguasai teknik keempat yakni mengaitkan dan memegang busur (hooking and gripping). Gerakan memanah ini bisa dilakukan dengan menempatkan atau mengaitkan jari di tali sesudah anak panah.

Saatnya memanah!

Usai melakukan gerakan 4 teknik, kini saat yang ditunggu-tunggu para peserta yakni memanah. Untuk mengeksekusi panahan, pemanah harus melakukan 3 teknik lagi. Pertama adalah menarik tali busur (drawing) dimana pemanah perlu menarik tali busur sampai menyentuh dagu, bibir dan hidung yang dilanjutkan dengan peletakan tangan ke penarik tali busur yang ada di dagu. Kedua adalah teknik penjangkaran lengan penarik (anchoring). Pada teknik ini, pemain panahan perlu menjangkarkan tangan yang dipakai sebagai penarik tali busur di bagian dagu. Caranya adalah menempatkan posisi yang sama pada penjangkaran tangan penarik tali dan menjaga agar kekokohannya tetap terjaga dan menempel di bawah dagu. Tak disangka, beberapa peserta berhasil melesatkan busur panah ke papan target. Suasana keriangan pun terasa.

 Ketika Selesai Memanah

Teknik yang terakhir diajarkan adalah menahan sikap panahan. Pada tahap terakhir ini pemain panahan perlu berada dalam kondisi menahan posisi memanah beberapa saat. Tujuannya adalah agar posisi badan tak mengalami perubahan ketika hendak pelepasan anak panah. Tak terasa sesi olahraga panahan pun berakhir.

Semua peserta yang merupakan diplomat wanita akhirnya dengan berat hati mengucapkan selamat tinggal pada olahraga panahan di Pondok Pesantren Gontor. Meski wajah menampakkan kelelahan, tapi pelajaran cara memanah ini tentunya akan membekas dan selalu menjadi pengalaman yang berharga bagi mereka. (Sumber _

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan