Berita AlumniInspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Gontor Sumber Inspirasi, Tulisan Alumni Gontor yang Tinggal di Korea

Jakarta – Sabtu pagi, ribuan orang berduyun-duyun menuju Masjid Istiqlal untuk menjalankan sujud syukur atas nikmat panjang umur yang diberikan Tuhan kepada Pondok Modern Darussalam, Gontor. Tokoh-tokoh alumni berkumpul bersama sebagai tanda kick off dari rangkaian ultah yang akan menyita waktu dan energi. “Jika kamu bersyukur, maka akan kutambah nikmatku” demikian yang selalu diajarkan di Gontor.

Tidak bisa dipungkiri, alumni Pesantren yang hampir berusia seabad ini sudah demikian bejibun. Selalu saja ada masa di mana tokoh-tokoh yang pernah digembleng di sana muncul ke permukaan. Mulai dari politisi, seniman hingga penulis. Mulai Idham Cholid hingga Hidayat Nur Wahid (PKS). Dari Hasyim Muzadi (NU) hingga Din Syamsuddin (Muhammadiyah). Mulai Cak Nun hingga Ahmad Fuadi. Semua mengaku menitisi warisan besar nilai-nilai pesantren yang berlokasi di kota kecil Ponorogo, Jawa Timur, itu.

Begitu tenarnya, puluhan bahkan mungkin sampai seratusan pesantren telah mencoba melakukan copy paste model pendidikan ala Gontor. Ada yang menjiplak 100 persen, ada juga yang hanya 50 persen. Yang jelas, Gontor terus menjadi inspirasi model pesantren yang dicita-citakan banyak kalangan. Semua pihak angkat topi, tak terkecuali dari kelompok mana pun.

Kalau saya melihat fenomena di atas, maka dugaan kuat saya mengatakan bahwa Pesantren Gontor memiliki setidaknya 4 keunikan yang jarang dimiliki oleh pesantren lain. Faktor-faktor itulah yang sekaligus membuatnya bertahan hampir satu abad lamanya.

Pertama soal manajemen. Sejak pertama kali berdiri, Gontor memang unggul dalam hal manajemen yang boleh dibilang modern. Bahkan, sampai saat ini pun nyaris belum ada tandingannya. Di kala banyak pesantren tidak mampu memisahkan harta pesantren dengan keluarga pendiri, maka Gontor dengan tegas memberikan batasan hak-hak dan kewajiban tiga pendiri Pondok atau yang sering disebut Trimurti. Bahkan harta pesantren dikelola oleh yayasan yang dipertanggungjawabkan. Tidak hanya itu, sampai kini pesantren dipimpin oleh tiga kiai yang bertindak agak mirip dengan konsep Trias Politica (pembagian kekuasaan). Inilah yang dalam batas-batas tertentu, membuat Pondok Modern Gontor menjadi maju dan kaya raya.

Kedua, jiwa ikhlas. Di Gontor sangat dikenal ungkapan al-ikhlasu ruhul amal atau ikhlas itu jiwa sebuah perbuatan. Konsep inilah yang membuat manajemen pesantren tidak cakar-cakaran. Yang mendorong ustaz dan santrinya berbuat maksimal (man jadda wajada) tanpa banyak memiliki hidden agenda. Semua bergerak seirama bagaikan air bah yang mampu menyapu apa saja yang ada di depannya.

Jiwa ikhlas ini juga ditunjukkan oleh banyak alumninya yang terus setia mengembangkan diri dan pesantren alumni guna melanjutkan cita-cita sang pendiri Gontor. Jumlah alumni yang kini berada di hampir semua pelosok dunia menjadikan Gontor terus berkibar-kibar.

Ketiga, konsep bahwa pesantren “di atas dan untuk semua golongan”, yang mirip dengan polugri bebas aktif atau kebijakan non-blok. Memang di masa-masa Orde Lama dan Orde Baru, konsep ini telah membuat Gontor seperti gadis seksi yang diperebutkan semua pria tampan. Dengan terus memegang teguh konsep ini maka sebenarnya Gontor dengan penuh kesadaran menjadi besar dan mulia. Tatkala banyak pesantren terjebak politis praktis tidak sedikit yang segera jatuh merek manakala yang didukung mulai redup diterpa banyak masalah sosial.

Keempat soal kedisiplinan. Pondok Gontor adalah Kawah Condrodimuko bagi santri. Dengan disiplin yang ketat selama 6 tahun menjadikan santri-santrinya memiliki pribadi yang kuat. Bahkan mampu terus berinovasi dan bertahan dalam gejolak dunia yang semakin berubah. Mentalitas dan militansi yang tinggi ini adalah modal dasar yang sampai kini kurang dimiliki sebagian besar bangsa Indonsia sehingga mudah terlibas oleh bangsa-bangsa lainnya.

Ada yang mengatakan bahwa pendidikan bahasa Arab dan Inggris juga menjadi keunggulan Gontor. Pada setengah abad pertama usia Gontor hal tersebut bisa jadi benar adanya. Namun dalam konteks kekinian, sudah terlalu banyak lembaga pendidikan yang memiliki metode canggih untuk mempelajari bahasa asing dengan cepat dan mudah.

Di ulang tahun ke 90 ini, sudah selayaknya Pondok Modern Gontor kembali membuka lembaran prinsip-prinsip lama yang membuatnya menjadi pesantren raksasa dan berpengaruh. Upaya dari banyak pihak untuk menyeret Gontor ke kancah politik praktis pasti akan terus dilakukan tanpa mengenal lelah. Sedangkan godaan materi yang dapat mengendorkan jiwa ikhlas dan disiplin, diyakini akan menjadi tantangan besar. Sedangkan manajemen yang rapi jali sejak berdirinya pesantren, sudah semestinya dikawal dan dijaga tanpa henti.

Tanpa memegang teguh prinsip-prinsip di atas maka Gontor akan segera tertulis dalam buku sejarah masa lalu. Orang bilang “fantadziris sa’ah”, tinggal menunggu waktunya saja.

Selamat Ultah Pondok Modern Gontor. Sesuai namamu (Darussalam), teruslah menjadi rumah yang damai, maju dan penuh inspirasi. 

Judul asli: Dibalik 90 tahun PM Gontor. Disadur dari kolom detik.com

*Penulis adalah alumni Gontor yang kini tinggal di Seoul, Republik Korea(ajimoscovic@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan