Inspirasi dan MotivasiSerba-Serbi

Walisantri Ngobrolin Tentang Persatuan Walisantri

Hampir di semua sekolah ada organisasi wali murid yang diakui sekolah dan juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan orangtua murid. Organisasi wali murid ini ada yang dikenal dengan komite, POMA, Jam’iya (Al Azhar) dll. Mereka bersinergi dengan sekolah dalam beberapa kegiatan. Dan kadang kiprah komite bisa mempengaruhi kebijakan sekolah

Dan di Gontor tidak ada organisasi semacam itu bahkan statusnya “haram” alias dilarang. Awalnya saya kurang paham tapi juga tidak berusaha mencari paham, saat itu yang terfikir saat anak sekolah SD aja saya ga terlibat dengan komite jadi saat dipondok ga ada organisasi sejenis tidak pengaruh bagi saya.

Tapi seiring waktu ternyata saya melihat hikmah yang besar dengan aturan pondok seperti itu.

Gontor bukan pesantren yang baru seusia jagung. Perjalanan waktunya membentuk kebijaksanaan dan kearifan. Peraturan dibuat dengan bekal pengalaman bertahun-tahun dan godokan dewan wakaf yang memiliki kapasitas ilmu yang tidak diragukan dah juga yang paling penting pengalaman menjadi bagian Gontor, “anak yang lahir dari rahim Gontor”, yang ikatan bathinya sangat kuat.

Jika ada Komite atau persatuan walisantri maka akan rentan dengan interfensi yang akan merusak “ruh” pondok. Karena kita sbg walisantri bisa dikatakan baru kenal Gontor saat anak kita masuk, mungkin bukan alumni (sbb kalau alumni pasti paham), tidak standby di pondok, dapat info tidak komprehensif, maka bisa jadi cara pandang kita beda. Kadang sebagian kita (terutama saat baru2nya masukin anak ke Gontor) merasa memiliki kebijaksanaan yang lebih bagus dari pondok, protes koq pondok begini, koq begitu dll. Maka pantas komite atau POM dilarang di Gontor.

Terus bagaimana peran walisantri?

Saat pendaftaran sering diulang setiap tahun agar walisantri siap untuk T.I.T.I.P. Memasukkan anak ke Gontor berarti sudah siap dengan prinsip T.I.T.I.P ini (Filosofi TITIP bisa dilihat di tulisan lain)

Apakah pondok sama sekali tertutup dari sumbang saran?

Sepengetahuan saya sumbang saran bisa disalurkan ke Badan Wakaf, bukan ke pondok. Tp jangan harap bisa memaksakan kehendak karena pasti akan sia-sia.

Ada celotehan walisantri: cara paling masuk akal jika ingin mempengaruhi pondok hanya dengan memotivasi anak kita untuk memiliki kualitas alumni unggulan, memiliki kiprah dan pengaruh yang kuat, dan berharap bisa masuk dewan wakaf. Tapi walisantri yang lain menimpali: kalo sudah dalam hingga berada dalam barisan Badan Wakaf justru yang terjadi mereka menjadi pilar2 penegak “ruh pondok” yang sudah terbukti dan teruji bertahun-tahun.

😁🙏🙏🙏

R.i.M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan