Hanya di GontorInspirasi dan Motivasi

PENGALAMAN WALI SANTRI GONTOR

Assalamu Alaikum wr..wb..
Salam kenal buat pengunjung blog saya dan maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan.

Sejak tamat SD saya ingin memasukkan anak ke2 saya ke pesantren tapi pada saat itu kakaknya Alhamdulillah mendapatkan beasiswa di salahsatu SLTA swasta di kota Paris Van Java terpaksa saya mengurungkan niat memasukkan putraku ke pesantren karena rumah pasti terasa sepi kehilangan 2 anak bersamaan.

Tiga tahun kemudian di saat putra ke2 saya mau tamat SLTP, seperti ibu-ibu yang lain saya bingung mau menyekolahkan ke mana anak saya,awalnya saya sudah memutuskan untuk memasukkan putra saya ke salah satu pesantren yang ada di tempat saya namun putra saya bertemu dengan temannya dan menyarankan membatalkan masuk ke pesantren itu.

Akhirnya saya membatalkan dan memutuskan memasukkannya di SLTA negeri unggulan di kotaku tetapi kakaknya menelepon menanyakan dimana adiknya akan sekolah dan saya memberitahunya kalau adiknya akan sekolah di SLTA negeri tapi kakaknya memberi masukan agar adiknya ikut jejaknya sekolah di pulau Jawa karena dia mendapatkan pergaulan yang luas dan Insya Allah yang positif.

Saya langsung membuka internet dan mencari 10 Pesantren terbaik di Indonesia dan salah satu diantaranya Pesantren GONTOR, akhirnya saya memutuskan memasukkan putra saya ke Gontor.

Satu minggu setelah UN, saya, putraku, adik dan neneknya melakukan perjalanan menuju Gontor berbekal info seadanya,tiba di bandara Juanda kami menyewa mobil menuju Ponorogo awalnya saya kira dekat ternyata perjalana ke Ponorogo ditempuh selama 5 jam.Tempat pendaftaran dipusatkan di Gontor 2 tiba di Gontor 2 saya mendaftar dulu ke BAPENTA yaitu tempat penerimaan tamu lalu mengikuti pengarahan dari pengasuh Gontor 2  setelah shalat Ashar pendaftaran calon pelajar baru dibuka,saya mendaftarkan putra saya dan mengikuti segala prosedur pendaftaran.

Setelah 4 hari dan putra saya sudah merelakan saya pulang, saya kembali ke kampung dan putra saya mengikuti capel sekitar 3 bulan.  Alhamdulillah putraku enjoy di ponpes.

20 ramadhan putraku pulang ke kampung bersama teman-temannya sekitar 60 orang diantar oleh 2 orang ustadznya dan 5 syawal anak saya kembali ke Gontor 2 ditemani neneknya untuk mengikuti tes tulis sebelumnya dia telah mengikuti tes lisan saya menyusul 6 hari kemudian.

Ketika saya tiba di Gontor ternyata sudah dipadati oleh para wali santri bayangkan saja capel yang mendaftar 3425 siswa dan 1 siswa diantar minimal 2 orang (papa dan mamanya) anak saya Alhamdulillah optimis lulus walaupun dia mengeluh kesusahan di imla Arab baginya dia lulus di Gontor, di Gontor berapun ditempatkan.

Hari test pun tiba, malamnya para capel diberi pengarahan oleh pengasuh Gontor 2 dan orangtua diharapkan mendo’akan anaknya.pagi pukul 06.00 anak-anak berkumpul di lapangan dan di sana telah siap mobil yang akan mengangkut anak-anak ke Gontor 1 untuk test.

Mobil yang akan mengangkut anak-anak adalah mobil truk. Truk yang disiapkan ada 20 mobil dan akan mengangkut 2 kali. Saat itu para orangtua juga berkumpul melihat anak-anaknya berangkat setiap mobil yang melintas orangtua menyemangati  mereka dengan meneriakkan “ALLAHU AKBAR” tidak peduli anaknya ada dalam mobil itu atau tidak.

Testnya selesai ba’da Ashar orangtua pun telah menunggu anak-anak kembali di pintu gerbang dan kembali meneriakkan “ALLAHU AKBAR”.

Sepulang test anak saya menundukkan kepalanya dipangkuanku sambil berkata “ma..mudah-mudahan saya lulus  walau di Gontor berapa pun saya bersyukur sekali” matanya berkaca-kaca, saya cuma bisa menjawab A..mi..n sambil terharu karena sebenarnya kemauan saya yang ingin memasukkan anak saya ke pesantren tapi Alhamdulillah anak saya mau mengikuti kemauan saya.

Ba’da Maghrib anak saya menemui saya dan kembali menundukkan kepalanya ke pangkuan saya dan tidak berkata-kata, dalam hati saya merasa kalau anak saya merasa bersalah tidak bersungguh-sungguh mengikuti testnya.

Tapi saya menyemangati dengan berkata “Insya Allah kamu lulus nak kamu sudah berusaha dan kamu juga berusaha menyenangkan mama dengan mengikuti kemauannya mama untuk masuk pesantren”.

Pengumuman dilaksanakan 3 hari setelah test.

Hari pengumuman tiba, anak-anak berkumpul di bawah tenda yang sudah disiapkan. Pengumumanya dengan menyebutkan nomor test capel.

Pertama pengumuman capel yang lulus dan ditempatkan di Gontor 1 mendekati  no.test 500 saya memasang kuping baik-baik dan akhirnya no.test anak saya disebut,dia lulus di Gontor 1 “ALHAMDULILLAH YA..ALLAH” saya langsung sujud syukur lalu menelepon ayahnya dan kerabat lain di kampung.

Pada saat itu anak saya belum bisa meninggalkan tempat sebelum semuanya selesai disebutkan sampai penempatan di Gontor 6.

Setelah semuanya disebutkan anak saya mendatangi saya dengan wajah terharu dan senyumnya yang khas, saya langsung memeluk dan menciumnya.

Anak saya berkata  “Alhamdulillah..ma..saya tidak sangka kalau saya lulus dan ditempatkan di Gontor 1“. Di kamar saya ada 7 anak yang tidak lulus, mereka kecewa sekali, mereka sangat berharap lulus.

Santri yang lulus di Gontor 1 akan dibawa ke sana setelah dhuhur. Santri dimobilisasi oleh pihak pesantren sementara wali santri kumpul dan menyewa angkot. Jarak dari Gontor 2 ke Gontor 1 tidak jauh hanya sekitar 15 menit.

Tiba di Gontor 1 santri langsung pembagian rayon sementara wali santri sibuk mendaftar ulang dan melengkapi sesuai prosedur pendaftaran ulang misal membayar lemari dll.

Kegiatan santri sangat padat mulai bangun tidur jam 03.30 sampai malam jam 22.00.melihat kegiatan santri yang padat Wali santri menyiapkan kebutuhan anaknya: membeli buku, merapikan lemari dll.

Setelah semua kebutuhan anak saya terpenuhi dan anak saya sudah merelakan saya pulang, saya kembali ke kampung bersama ibu saya.

Oh..iya kakak saya yang tinggal di Jakarta menyempatkan datang bertemu dengan anak saya diantar sama temannya yang tinggal di Surabaya,walau dia ketemu hanya setengah jam tapi sempat memberi nasehat.

Pengalaman yang tak akan terlupakan,

Di Gontor anak diperlakukan sama, tidak ada yang dibedakan padahal di sana mulai anak petani, anak kuli bangunan sampai anak dokter, anak pengusaha, anak kiyai dan anak pejabat, dari suku yang berbeda ada yang dari Malaysia, Singapura, Thailand dan tentu saja dari seluruh Indonesia. Tidak ada kongkalikong untuk meluluskan anaknya.

Insya Allah tahun depan saya akan memasukkan anak bungsu saya di Gontor putri dan Insya Allah saya akan menceritakan pengalaman saya berikutnya di blogku.

Itulah yang dapat saya ceritakan.MOHON DO’A SEMOGA PUTRA SAYA SEHAT DAN BETAH SELAMA DI PONDOK
WASSALAM

Yang perlu dipersiapkan untuk yang mau masuk Gontor:

  1. Untuk test : berhitung,bahasa Indonesia,dan imla Arab
  2. Pakaian, jangan terlalu banyak membawa pakaian siapkan saja pakaian dalam, celana kain, kemeja yang tidak berwarna terang,kaos sebaiknya beli di pondok, sepatu pentopel, sepatu olahraga, baju koko, sarung dan peci (semuanya tersedia di koperasi pondok dan menurut saya lebih murah)
  3. Kebutuhan yang lain-lain tersedia di koperasi pondok

Perjalanan ke Gontor:
Dari bandara Juanda kita bisa menggunakan mobil travel yang langsung mengantar ke tempat,bisa menggunakan kereta tiba di stasiun Madiun lalu pake ojek dan bisa juga pake bus dari bandara pake damri ke terminal lalu pake bus ke Ponorogo.

Diposting oleh azimaar latif

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan