Serba-Serbi

Bule Saja Bangga Jadi Santri, Masa Kamu Engga?

Hari Santri Nasional merupakan satu hari yang dipilih untuk memperingati kegigihan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya pengambil alihan wilayah oleh penjajah. Kegigihan waktu itu menjadi semangat santri dalam melanjutkan perjuangan menimba ilmu hingga detik ini.

Walaupun merengkuh kejayaan saat itu, pesantren semakin ditinggalkan oleh para orangtua masa kini. Banyak sekali alasan yang digunakan orangtua untuk tidak menitipkan anaknya ke pesantren seperti, letaknya yang kelewat jauh, serta metode pengajaran pesantren dianggap sudah usang.
Alasan kedua adalah yang paling umum dilontarkan oleh orangtua ketika ditanyakan soal kesediaannya menitipkan anaknya ke pesantren, maklum saja pesantren dipandang lembaga yang menitik beratkan pada agama semata. Padahal, saat ini keterampilan serta pengetahuan umum amatlah dibutuhkan untuk bersaing di era keterbukaan dan ekonomi global.

Padahal anggapan seperti itu salah, seperti kata orang-orang di Senayan ‘membeli kucing dalam karung’, belum tahu isinya namun sudah berani menilai. Presiden Indonesia, Joko Widodo, menilai bahwa pondok pesantren kita sudah go internasional.

Seperti yang dilansir dari Kompas.com, Saat Jokowi mendatangi Pondok Pesantren Gontor, ia melihat yang menjadi santri di sana bukan hanya warga lokal, namun warga negara internasional turut menimba ilmu di Gontor. “Tadi saya tanya santri ternyata ada semua dari Sabang dan Merauke. Bahkan dari luar negeri ada santri yang berasal dari Malaysia, Thailand hingga Amerika Serikat. Kondisi ini menunjukkan Pondok Gontor bukan bertaraf nasional saja tetapi sudah mendunia,” katanya. Melihat dari berita ini, bisa kita simpulkan bahwa bule pun mau menjadi santri.

Bahkan Farhat Abdul Majiid yang pernah nyantren mengatakan bahwa sekarang pesantren telah berubah menjadi lebih modern dan mengikuti perkembangan zaman. Pelajaran yang diberikan bukan melulu agama, tapi pelajaran umum telah disetarakan. Sehingga ajaran agama menjadi fondasi para santri ketika berbaur di masyarakat.

Pesantren kini telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih hebat, mereka berhasil memadukan beberapa model pengajaran di Indonesia. Menurut Suhari Ete, banyak pesantren yang menyediakan lembaga pendidikan formal yang sesuai pada kurikulum yang disetujui pemerintah.

Pengawasan anak di pesantren dan sekolah umum juga berbeda. Pada sekolah biasa, anak hanya terpantau selama sekitar 6 jam saja, terhitung sejak masuk hingga keluar sekolah. Hal ini terjadi karena guru tidak memiliki fasilitas pendukung untuk melihat anak ketika berada di luar lingkungan sekolah. Paling, terobosan yang mampu dilakukan guru dalam mengawasi siswa ketika di luar sekolah hanyalah lewat LKS atau lembar shalat yang di keluarkan ketika bulan ramadan.
Itupun tidak efektif, karena guru tidak bisa melihat secara langsung proses perkembangan sang anak ketika mengerjakan soal meupun menjalankan ibadah. Mereka tidak bisa memberi arahan jika sang siswa mengerjakan sesuatu yang salah, baru keesokan harinya ketika lembaran itu di kumpulkan, guru bisa menilai dan memberi masukan mengenai kesalahan siswa.

Beda dengan pengajaran di sekolah biasa, kehidupan para santri di pesantren amat dimonitor oleh para orangtua asuh di sana atau kyai. Perkembangan anak akan terpantau, walaupun tidak satu hari penuh, namun faktanya kontrol yang diberikan akan lebih banyak ketimbang anak yang bersekolah di sekolah biasa.

Ketatnya pengawasan memberikan efek baik kepada perkembangan anak. Mereka akan lebih fokus dalam belajar dan mengembabngkan dirinya dan lebih kecil terkena dampak hal negatif dibandingkan anak yang di sekolah umum.

Syafrin Yunus menggambarkan, dibandingkan dengan anak muda yang sekarang sering berfoya-foya serta mengkultuskan gaya hidup, santri justru berdiam diri sambil belajar dan mengaji. Menurutnya, santri yang jauh dari orangtua lebih bisa mandiri, mereka mampu mengatur hidupnya lebih baik ketimbang anak yang tinggal dengan orangtuanya.

Walaupun terkesan terlalu terisolir dari dunia luar akibat posesifnya orangtua asuh yang ada di pesantren, nyatanya para santri tetap update informasi. Semua ini berkat perkembangan pondok pesantren yang tidak sekaku dulu dan mulai berdamai dengan modernitas tanpa menghilangkan esensi dari pondok dan ilmu yang diajarkannya.

Santri pada dasarnya sama seperti anak pada umumnya, mereka juga membutuhkan pergaulan dan membutuhkan narsism,eksistensi yang berlebih dan biasa disebut narsis oleh anak muda. Mereka juga aktif di sosial media dan berkenalan dengan dunia luar lewat sana.

Hal ini diamini oleh Azizatul Luthfiyah, menurutnya telah banyak bermunculan santri kekinian, merujuk pada perkataan anak muda yang mengikuti zaman dan disebut kekinian.menurutnya, santri berpakaian sederhana bukan berarti kuno, bukan juga ketinggalan zaman, semua itu muncul karena penggambaran seorang santri haruslah sederhana.

Santri kekinian menurutnya adalah santri yang mengikuti trand di medsos. Dengan tentu saja mengikuti ajaran-ajaran di pondok pesantren. Konten yang di buat di medsos juga meliputi ajakan-ajakan dan himbauan agama. (LUK/YUD)

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan